Tampilkan postingan dengan label Cerpen Ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Ku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

Lelaki Hujan

   Aku suka hujan. Apalagi ketika detik penantian saat hujan kan datang. Begitu bersahaja, natural, apa adanya. Tak ada kesombongan ataupun kesan negatif yang ditampakkan olehnya. Hujan adalah hujan. Tetap membasahi pori-pori bumi dengan tulus. Tanpa memandang siapa dan di mana, ia mesti membasahinya. Sungguh, betapa indahnya suguhan alam ini. Hujanku, anugerah Tuhan yang mempesona.
   Adalah sekelibat hujan. Yang senantiasa mengisahkan cerita manis tentangmu. Dengan balutan selimut rindu dalam setiap suguhannya. Betapa menyenangkannya kala itu. Dan bagiku, ketika hujan datang, di sanalah aku dapat menemukan sosokmu. Yang tak mampu ku gapai namun selalu terpatri dalam relung hatiku.
   Namun, kini hujan tak hanya bercerita tentangmu saja padaku. Melainkan juga dia. Ya, dia. Dia yang tak sengaja tertangkap lembut oleh pandangan mataku. Bersatu padu dengan rinai hujan dalam lukisan senja sore itu. Ah, semestinya aku tak boleh begini. Begitu mudahnya tersipu dengan pesona hujan yang berbeda dengan kehadirannya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, mataku seakan tak pernah jemu mengikuti langkah yang dia torehkan dalam pijak sang bumi. Hatiku berdesir. Tak bisa. Tak boleh. Ia berbeda denganku.
********************************************************************
Pukul 16.00 WITA, awan gelap mulai menyelingkupi langit. Sepertinya hendak turun hujan lagi. Aku memandang gemas. Sedari tadi, hatiku tak karuan. Bis yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Aku mulai gelisah. “Ayolah, cepat datang. Cepat datang,” lirihku dalam hati. Duh, seandainya keadaanku tak segenting ini, alamak indah nian panorama hujan sore ini. Menunggu detik-detik tetesan hujan jatuh ke tanah, kemudian tak lama berselang turunlah gerombolan bola-bola air itu sehingga menimbulkan riak yang bernada. Aku selalu suka hujan. Selalu.
   Sayangnya hingga setengah jam kemudian, bis yang dinanti tak juga datang. Walah, bisa dimarahi Mbak Rima nanti di sana. Mana ia telah beberapa kali menelepon semenjak aku menunggu di halte bis. Aku pasrah. Membayangkan wajah Mbak Rima yang setengah syahdu-setengah awut-awutan karena keterlambatanku. “Maaf, Mbak,” ringisku diam-diam.
   Bertepatan dengan kepasrahanku, rintik-rintik hujan mulai nampak membasahi tanah. Semakin lama intensitasnya semakin lebat saja. Orang-orang pun segera berteduh di halte bis. Sekejap, suasana di halte menjadi ramai. Saling sikut sana-sini mencari posisi berlindung yang aman dari tetesan hujan. Terkecuali aku. Aku menikmatinya. Teramat sangat. Hujan menjadi salah satu obat yang dapat mendamaikan hatiku. Untuk kini, aku patut bersyukur pada-Nya. Setidaknya hujan mengurangi penatku sedari tadi. Namun Tuhan memiliki rencana lain. Ternyata hujan juga menyuguhkan kisah yang membekas di ingatan. Mengubah segalanya. Kehidupanku dan cinta.
********************************************************************
“Hayooo, ngelamunin apa?” ucap Mbak Rima mengagetkanku.
  “Eh, Mbak. Angi gak melamun kok. Cuma melongo, melihat sekitar,” jawabku membela diri. Mbak Rima hanya geleng-geleng kepala mendengar jawabanku yang asal sebut. Dan aku cuma bisa cengir di hadapannya.
  Untunglah, bayanganku tentang Mbak Rima yang marah besar atas keterlambatanku tak terjadi. Setiba di apotek berukuran 250 m2 yang di cat serba biru ini, Mbak Rima menyambutku dengan wajah lega. Berterima kasih karena aku berkenan datang ke apotek secara dadakan. Mbak Rima meminta tolong padaku untuk menjadi guide sementara sebab ada karyawan baru yang akan bekerja di apotek kami. Kabar baiknya, karyawan baru itu belum datang. Mbak Rima menyuruhku untuk beristirahat sejenak.
  Aku mengangguk. Pergi ke kamar mandi, berbenah diri. Lantas beranjak masuk ke ruangan kerja. Aku menghela napas. Masih sepi. Di luar pun masih hujan. Ku putuskan mengambil posisi duduk yang nyaman supaya bisa menikmati pemandangan hujan di luar sana.
  Sebentar saja, perhatianku sudah teralihkan oleh kejadian di halte bis itu. Sebenarnya aktivitas orang-orang di saat hujan tak terlalu berbeda. Kebanyakan memutuskan untuk berhenti, berteduh di suatu tempat. Atau memakai jas hujan maupun payung bagi mereka yang membawa persiapan. Tak ada spesial. Hanya saja, ketika mataku beradu dengan pemandangan di seberang halte, waktu seolah-olah berhenti. Aku terpana. Dibuai oleh sesosok pemuda yang bahkan tak ku kenal sama sekali. Ia sukses membuatku terpaku di tempat, mengawasi gerak-geriknya dari kejauhan.
  Wajah pemuda itu nampak ramah, rela berbasah-basahan hanya sekadar untuk membantu seorang anak kecil yang jatuh dari sepeda. Menghiburnya lantas mengajaknya bermain di tengah derasnya hujan. Anak kecil itu pun kelihatannya sudah lupa dengan kejadian tadi. Memutuskan ikut langkah sang kakak laki-laki yang telah menolongnya. Mereka terlihat ceria. Tak berapa lama kemudian, anak-anak kecil lainnya pun ikut bergabung dengan mereka. Berlarian ke sana kemari. Tertawa bersama. Menciptakan harmoni yang menyejukkan mata dalam terpaan hujan. Kombinasi alam dan manusia.
  Begitulah kira-kira kilas balik yang ku lakukan sebelumnya sembari menanti kedatangan tamu istimewa kami. Hujan sudah mereda. Menyisakan tetes demi tetes yang menggantung di dedaunan. Tepat pukul 18.00 WITA, tamu yang dinanti itu akhirnya datang. Saat tamu itu menampakkan diri di hadapanku dan Mbak Rima, aku membisu. Dia. Pemuda itu.
********************************************************************
Ternyata ia tak sebaik yang ku kira. Penilaianku salah total. Ia benar-benar menjengkelkan. Seusai perkenalan singkat, Mbak Rima menyerahkan tugasnya kepadaku. Aku berusaha menjelaskan kepadanya dengan baik. Responnya hanya diam, mengangguk, sebentar bergumam. Tak lebih. Oke, aku harus bersabar.
  Hari-hari selanjutnya, batas kesabaranku habis untuknya. Bagaimana tidak. Sepuluh pasien yang berobat hari ini terpaksa menunggu lama. Ia ku suruh menebus obat di apotek sebelah tapi belum datang-datang juga. Tiba di apotek, ia cuma berkata,” Lagi macet”. Mukaku memerah. Alasan yang tak masuk akal.
  Tak hanya itu, sudah beberapa kali ia masuk terlambat. Aku saja yang sudah 1 tahun bekerja di sini, baru sekali terlambat. Itupun bukan kesalahanku sepenuhnya. Tapi dia baru 1 bulan bekerja, sudah banyak tingkah. Sering terlambat, kerjaannya lebih banyak diam, terkadang malah sering ku temukan ia ketiduran. Jengkel setengah mati, ku putuskan untuk membicarakannya pada Mbak Rima. Mbak Rima hanya tertawa. “Hati-hati loh, nanti bisa jadi suka”. Aku memasang wajah kusut. Tawa Mbak Rima malah semakin kencang. “Sudahlah, Ngi. Jangan menilai buruk mengenai dirinya. Alangkah lebih baik bila kau mengetahui terlebih dulu alasan di balik sikapnya itu”, saran Mbak Rima bijak.
********************************************************************
Perkataan Mbak Rima benar. Semestinya aku tak segera menyimpulkan apapun tentangnya. Aku menyesal. Di balik sikapnya selama ini, aku baru sadar ia adalah seseorang yang sangat peduli dengan keadaan orang lain, melebihi dirinya sendiri. Dan lagi-lagi hujan lah yang membuka tabir rahasianya.
  Ketika itu, aku tak sengaja melewati apotek di hari libur. Terlihat seorang laki-laki keluar dari apotek sambil membawa kantong sampah. Aku terkejut. Biasanya hanya aku, Raja, dan Mbak Rima yang seringkali mengunjungi apotek. Tapi laki-laki itu sepertinya aku pernah mengenalnya. Untuk memastikan, aku lantas mengintip di balik kaca. Eh. Dia. Pemuda menyebalkan itu tengah membersihkan ruangan kami. Itu berita yang mengejutkan bagiku. Aku kaget hingga tak sadar pemuda itu kini berada di belakangku, memergoki aku yang tengah mengintip.
  “Sudah puas mengintipnya?”
  “Heh. Aku tidak mengintip. Hanya memeriksa saja”.
  “Terserahlah. Aku mau lanjut kerja lagi”.
  Aku menatap sebal. Cueknya masih melekat. Kepalang tanggung, aku sudah di apotek dan ketahuan memergokinya. Ku putuskan untuk membantunya. Ia tak banyak protes. Mempersilahkan aku membereskan bagiannya yang belum selesai. Aku juga tak bisa pulang. Hujan sudah turun membasahi bumi. Membantunya di apotek adalah pilihan yang baik. Selama bekerja, tak ada juga percakapan yang berarti di antara kami. Hingga sebuah potongan kaca melukai tanganku. Aku meringis. Ia mendatangiku.
  “Kau tidak apa-apa?” tanyanya cemas.
  Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku. Aku teramat syok menatap darah segar telah mengucur di telapak tanganku. Ia yang mengetahui tatapan mataku sedang menunjuk jawabannya, segera sigap mengambil beberapa peralatan P3K. Telaten membersihkan luka di telapak tanganku hingga tertutup dibalut perban. Aku merintih. Dadaku sesak melihat pemandangan tepat di hadapanku.
  Hujan semakin deras. Ia juga telah selesai menangani lukaku. Kini ia duduk di sampingku. Kelelahan.
  “Sudah tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu pulang”.
  Ia membantuku berdiri. Menyuruhku menunggu di ruang tunggu sedang ia hendak berbenah diri. Aku menuruti perintahnya. Hingga ia menutup apotek, aku hanya diam seribu bahasa. Berdiri di belakangnya, menunggu. Ia menyuruhku memakai jaket kulitnya. Aku mengangguk. Dan melajulah kami di tengah derasnya hujan menuju rumahku.
  “Sudah sampai. Turunlah”.
  Aku turun dari motornya. Tapi termangu di hadapannya. Menahan gejolak yang hendak keluar.
  “Ada apa? Ada yang ingin kau katakan?”
  “Maaa....maafkan aku. Aku telah salah menilaimu”, ucapku terbata, memberanikan menatapnya dengan perasaan bersalah.
  Untuk kali keduanya, ia berhasil membuatku terpesona. Sekelibat wajah ramahnya kembali hadir. Ada senyuman lembut tersungging di bibirnya. Lelaki hujan. Kedua. Namanya Awan.
  Detik itu, aku telah menyukai senyum, sorot mata, juga gerak tubuhnya. Ah, segalanya. Ia nyaris sempurna mempesona dalam balutan hujan. Tapi aku tak bisa. Ia amat berbeda.
********************************************************************
“Kenapa kau suka hujan, Pelangi?” tanyanya saat kami senggang. Akhir-akhir ini hubungan kami menjadi lebih baik. Kian akrab. Ia lebih suka memanggilku Pelangi dibanding Angi atau Ngi. Aku memanggilnya Awan.
  “Hujan mengingatkanku tentangnya. Tentang Langit. Kau tahu, ia lah yang pertama kali meyakini suatu saat nanti aku bisa jadi penulis. Percaya bahwa aku akan menggenggam janji kehidupan yang lebih baik. Kini, ia sedang melanjutkan studinya di luar negeri. Hujan menjadi saksi bisu atas percakapan kami. Ia akan kembali ke sini menemuiku. Ia pasti kembali”.
   “Bagaimana kau yakin ia akan menemuimu? Bisa saja dia punya pasangan di sana. Takkan pulang. Naif sekali”.
  “Kau kenapa sih, Awan?” tatapku jengkel. Tak sengaja, mata kami saling beradu pandang. Menimbulkan getar-getir di dada. Aku buru-buru memalingkan wajah.
  “Ah...sudahlah. Aku mau kerja lagi”. Mengakhiri percakapan. Meninggalkanku dalam kebingungan.
********************************************************************
“Dia menyukaimu, Ngi. Anak kecil juga tahu kali”, ujar Mbak Rima suatu hari. Aku terenyuh. Andai Mbak Rima tahu, aku tengah menahan gejolak perasaanku padanya. Aku berusaha menjaga jarak dengannya. Rasa suka Awan padaku tak boleh bertambah. Aku harus meredamnya. Keputusan terbaik. Kami berbeda. Bukan lagi perihal Langit seperti percakapan kami sebelumnya. Perbedaan ini lebih besar. Tentang prinsip hidup. Tentang aku.
  Nyatanya, semakin aku menghindar semakin gencar Awan berada di dekatku. Aku tak mengerti. Semenjak ku katakan padanya mengenai Langit, sikapnya berubah. Awan semakin perhatian padaku seolah-olah ia hendak mengatakan bahwa dia juga menyukaiku. Aku merasa serba salah. Di sisi lain, hatiku ingin menyambut Awan. Namun di sisi lain, ada Langit yang selalu ku tunggu juga perbedaan itu, perbedaanku dengan Awan. Membuatku murung, seharian menangis tak karuan di kamar. Mbak Rima mengizinkanku untuk tak masuk kerja beberapa hari. Untuk memulihkan hatiku.
********************************************************************
“Langit.....?”
  Sesosok lelaki berusia 25 tahun berada di depan pintu rumahku. Dia lah Langit. Lelaki hujan yang pertama.
  “Aku sudah kembali, Pelangi”.
  Mataku berkaca-kaca. Takjub. Langit telah memenuhi perkataannya. Belum sempat Langit masuk ke rumah. Awan tiba-tiba datang. Ia terkejut bukan main. Menyadari ada lelaki lain yang lebih dulu datang ke rumahku. Menciptakan kecanggunggan di antara kami bertiga.
  “Langit, ini Awan. Awan, ini Langit”, ucapku mencairkan suasana. Langit menyodorkan tangannya, hendak bersalaman dengan Awan. Namun Awan tak menggubris. Ia malah menatapku.
  “Ada yang ingin ku katakan padamu, Pelangi?”
  Aku menggigit bibir. Tidak. Jangan sampai ia bermaksud untuk mengatakan perasaannya padaku. Langit yang sadar akan perubahan sikapku lantas menjawab,”Bicaralah di sini atau kalau tak mau sebaiknya kau pulang. Apakah kau tak lihat Pelangi tak ingin berbicara denganmu saat ini”.
  “Aku menyukaimu, Pelangi”, ujarnya lantang seakan menantang Langit atas kedua pilihan itu.
  Bulir mata seketika jatuh di pipiku. Menimbulkan perasaan mashgul di hati Awan yang tengah melihatku. Ia memutuskan untuk pamit pulang. Meninggalkan aku dan Langit. Berdua saja. Ada banyak yang harus kami bicarakan. Penyelesaian.
********************************************************************
Malam itu dengan sisa tangis, ku uraikan segala cerita yang terjadi selama Langit tak berada di sini. Langit mendengarkanku dengan seksama. Aku meminta maaf padanya. Tapi Langit berbesar hati. Ia tak menyalahkanku. Justru ia memberikanku saran yang bijak. “Jangan menghindar. Bicaralah dengannya. Selesaikan masalahmu baik-baik. Dengarlah, Pelangi. Aku tak pernah meragukan perasaanmu padaku. Tapi aku juga tak bisa mengekangmu. Kita belum terikat apa pun. Aku bermaksud untuk memintamu sekembalinya aku ke sini. Hanya saja aku tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Kini, kau harus memilih. Aku dan Awan tentunya membutuhkan jawabanmu. Pilihlah dengan bijak, Pelangi. Untuk kebaikan bagi kita semua”.
********************************************************************
“Selamat ya. Semoga menjadi keluarga yang sakinah ma waddah wa rahmah”, ujar Awan menyalami ku dan Langit. Ya, aku telah memilih Langit menjadi pendampingku. Awan sempat menolak. Ia tak terima. Awan mengatakan bahwa Langit tak mengetahui apapun tentangku selama ini. Langit nun jauh di sana, tak mungkin tahu apa yang tengah terjadi padaku. Ia lah yang belakangan ini bersamaku. Ia yang menemaniku. Aku tak menyanggah. Hanya berkata,”Kita berbeda”. Awan bersikeras, menjawab bahwa dia bisa berubah demi aku. Lantas dengan tegas aku kembali berkata,”Kau tidak mengerti. Perubahan itu menyangkut prinsip hidup mu, masa depanmu. Kalau kau saja tak paham tentang hal ini. Bagaimana kau mampu menuntunku?” Awan terdiam. Ada benarnya beberapa hal yang diucapkan olehku. Awan merasa sudah cukup menyumbangsihkan tangis padaku karena dirinya. Ia tak ingin lagi. Hari itu, ia perlu memikirkan semua hal dengan matang. Perubahan besar. Keputusan yang tepat. Untuk dirinya.
  “Doakan aku cepat menyusul” ujarnya lagi. Aku dan Langit tersenyum mengamini doanya.
  “Kau memilih keputusan yang baik, Ngi. Kau membawa Awan kepada cinta yang sebenar-benarnya cinta. Tuhan, Sang Pemilik Hujan. Aku makin sayang padamu”.
Aku tertawa mendengar Langit menggodaku. Aku pun teramat bahagia saat mengetahui Awan telah masuk Islam. Bukan karena aku. Namun karena hatinya telah mantap memilih. Kini Awan sedang asyik menjalin untaian-untaian cinta dalam anugerah-Nya.

Ratu Untuk Raja

Namaku Ratu. Hanya Ratu. Titik. Pernah suatu ketika aku mempertanyakan perihal nama ini, orang tuaku hanya berkata,” Semoga engkau menjadi ratu yang sebaik-baiknya ratu”. Aku hanya mendelik, tak mengerti. Memutuskan untuk tak bertanya lebih jauh lagi.

Namaku Ratu. Hanya Ratu. Orang-orang bilang “ratu” adalah jabatan tertinggi dalam sebuah kerajaan. Sayangnya aku tinggal di Indonesia yang notabene berbentuk republik. Jadi apa makna dari namaku. Sekali lagi aku menggeleng. Tidak tahu.

Namaku Ratu. Hanya Ratu. Ketika kisah ini mulai menemukan muaranya, barulah aku menyadari makna ratu yang sebenarnya. Sederhana sekaligus mencengangkan.
***

Jingga raksasa mulai tertoreh di langit sore. Menawarkan panorama indah yang menggiurkan mata. Memang tak lama, tapi setidaknya bagi sebagian orang hal itu sudah cukup untuk menutup hari yang melelahkan.

Sama halnya yang kulakukan kini. Memilih pergi ke taman, duduk di bangku panjang, mengamati suasana di sekitar lantas beranjak pulang ke rumah. Tak ada yang spesial. Setidaknya beberapa kali kunjungan rutin ku ke taman belakangan ini.

Namun, sejak pukul empat sore, aku memutuskan untuk pergi ke taman lebih cepat dari jadwal kunjungan sebelumnya. Duduk rapi di bangku panjang favoritku sembari memegang sebuah boneka beruang. Aku tersenyum tipis. Sebentar lagi tiba. Ia akan datang. Janji masa kecil akan terwujud.

Lima menit, aku tetap anggun berada di posisiku. Menatap segerombolan anak kecil bermain ayun-ayunan. Beberapa di antaranya malah tengah berlarian mengejar temannya satu sama lain. Tak jauh dari tempat anak-anak tersebut bermain, beberapa muda-mudi juga sedang bersenda gurau, diiringi semburat merah khas remaja yang baru dimabuk cinta.

Setengah jam berlalu, suasana di taman semakin ramai. Orang-orang dewasa mulai berdatangan. Jalan santai, berkumpul dengan anggota klub, dan banyak lagi kegiatan yang sedang berlangsung di taman. Maklum, lokasi taman yang berpusat di tengah kota memang menjadi tempat favorit yang digandrungi masyarakat. Tak terkecuali aku.

Bahkan taman ini malah nyaris menjadi tempat bersejarah bagiku. Oleh karena itu, di sela rutinitas harianku, aku selalu menyempatkan untuk pergi ke taman. Meski pernah terhenti karena jadwal kuliah yang semakin padat.

Mengapa bersejarah? Mari ku ceritakan kisah sebelas tahun yang lalu. Ketika umurku 10 tahun. Ketika aku mulai mengenalnya, bersama, kemudian terpisah begitu saja.
***

“Ratu, ayo pulang. Sudah sore”. Ibu meneriakiku yang masih asyik bermain seluncuran. Selalu menyenangkan saat tubuhmu meluncur jatuh ke bawah tanah begitu cepat. Merasakan sensasi angin yang berhembus ketika berpacu dengan kecepatan. Namun tiba-tiba saja jatuh meringis kesakitan sesaat usai mendengar teriakan seseorang.

“Aduh”. Aku terduduk dengan seluruh permukaan badan penuh pasir, menyisakan lecet di beberapa bagian tubuhku. Aku mengeluh. Semestinya peluncuranku berjalan mulus sewaktu aku melakukan manuver andalanku. Namun teriakan ibu membuat pendaratan tiba di pasir menjadi kacau. Bagaimana tidak. Refleks aku berdiri. Alhasil, karena tubuhku tak seimbang, aku kembali terjerembab mencium bau khas pasir.

“Kau tidak apa-apa, Ratu?”

“Tak apa-apa, Bu. Hanya sedikit lecet”.

“Oh, apa yang terjadi padamu? Mengapa badanmu penuh pasir? Ayo, segera pulang. Bersihkan seluruh badanmu. Biar nanti Ibu obatin lukamu”. Kata Ibu ketika terperangah melihatku dalam kubangan pasir.

Di saat langkahku hendak mengikuti langkah Ibu, mata kecilku menangkap sesuatu yang tak biasa. Sekerumunan anak cewek. Entah apa yang tengah dikerubungi mereka. Akan tetapi, sepertinya itu adalah sesuatu hal yang menarik. Rasa ingin tahuku membuncah. Melupakan perintah ibu untuk segera pulang. Segera berlari menuju keramaian di sana.
***

“Setahuku, 5 lawan 1 adalah tindakan pengecut. Bagaimana kalau tambah satu”. Aku menatap geram sekelompok anak cewek di hadapanku. Ternyata hal menarik yang mereka lakukan adalah menindas cewek yang kini terkapar lemah. Aku tak tahu perihal apa yang menyebabkan perkelahian. Yang jelas tindakan mereka sangatlah tidak adil.

Menyadari ancaman baru dari orang asing, ketua kelompok memutuskan pergi dari tempat itu. Sepeninggal mereka, aku lantas membantu cewek tersebut berbenah diri. Memapahnya menuju ke rumahku.

“Astaga, ini siapa Ratu?”

Aku menggeleng. Tidak tahu. Hanya kasihan melihat dirinya. Barangkali saja Ibu akan bantu membersihkan luka-lukanya. Barulah aku mengantarnya pulang. Ibu tak banyak bicara, cakap membereskan sisa-sisa perkelahian yang tadi aku saksikan. Sekarang, anak cewek itu nampak lebih baik keadaannya. Duduk di kursi tamu dengan malu-malu.

“Aku Ratu. Nama kamu siapa?”

“A...a....ku.....Raja, ehm...maaf...maksudku...namaku Maharaja Putri. Panggil saja Putri”.

Aku mengernyit. Urung bertanya lebih lanjut. Raja.....eh...maksudku Putri sepertinya masih trauma dengan kejadian itu.
***

Esok paginya di kelas nampak riuh. Sepertinya ada anak baru yang akan masuk ke kelasku. Tak berapa lama kemudian, bel telah berbunyi. Keriuhan tersebut teredam beberapa saat. Langkah kaki pun mulai terdengar di sepanjang lorong kelas. Teman-teman di kelas nampak tegang.

Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Pak Alvi masuk ke kelas dengan seorang anak cewek. Yang lebih mengejutkan lagi adalah anak cewek tersebut tenyata Putri. Eh. Aku sontak kaget melihat sosoknya di depan kelas.
***

“Ratu, boleh aku duduk di sampingmu?”.

Eh. Lagi-lagi aku terlonjak kaget. Yang menyapa malah mengulum senyum manis. “Hem....ya...silahkan”. Selanjutnya percakapan pun mulai berjalan normal.

Tak terbayangkan hari-hari berikutnya, aku kian akrab dengan Putri. Putri anak yang menyenangkan. Bahkan kami pernah membuat capsule time untuk mengabadikan persahabatan kami. Di hari ulang tahunku, Putri juga tak lupa menghadiahkan sebuah boneka beruang yang sudah lama ku incar. Saking akrabnya hingga tersiar kabar burung yang tak menyenangkan. Aku dan Putri sama-sama saling menyukai.

Kabar burung ini makin terdengar kencang ketika fakta bahwa banyak anak-anak cowok yang menyukai Putri tak mendapat tanggapan positif dari si empunya. Putri malah semakin menempel padaku. Hey, aku berseru kesal. Bisa-bisanya mereka percaya saja dengan kabar burung itu. Lagipula kami masih anak-anak. Tak perlulah terlalu berlebihan. Aku dan Putri hanya berteman. Siapa pula yang berniat suka dengan cowok di kelas. Semuanya pengecut begitu.

Bila aku bersungut-sungut menanggapi kabar burung itu. Berbeda halnya dengan Putri. Tak ada reaksi. Sepertinya ia jauh lebih dewasa daripadaku. Atau ia memang tak tahu apa-apa. Aku tak berani menanyakannya.

Lepas dari kabar burung itu, sebenarnya kabar lain tentang Putri juga mengusikku. Ya, tentang namanya yang memang agak aneh. Apalagi terkadang bila bersamaku, ia tak jarang mengucap Raja kemudian berganti Putri. Begitu berulang kali tiap ia seketika melamun di tengah obrolan.

Hingga kejadian itu mengacaukan semua kebersamaan kami. Pulang sekolah, Putri tak pulang bersamaku. Katanya ada yang ingin mengajaknya bertemu. Aku senyam-senyum. Ada yang hendak menyatakan rasa sukanya pada Putri. Baiklah, aku memutuskan pergi. Lagipula aku ada rencana mengunjungi toko kue di ujung sekolah sana.
***

“Hahahahaha....ternyata benar kabar burung itu. Kau suka dengan Ratu. Kalian adalah pasangan lesbian”. Ujar seseorang saat aku tak sengaja melintasi taman kota. Mendengar nama Ratu disebut, rasa-rasanya aku seperti tengah dibicarakan. Penasaran, aku mendatangi arah suara tersebut berasal. Lihatlah, Putri dan seorang anak cowok lagi bersitegang.

“Kau. Jangan bicara hal yang buruk tentang Ratu. Kau tidak tahu apa-apa”. Sahut Putri membela diri. Anak cowok tersebut meradang, hendak mendorong jatuh Putri. Untungnya aku gesit menahan tubuh Putri. Spontan keluar dari persembunyian ketika Putri terancam.

“Aha....kejadian ini membuktikan kalian memang lesbian”. Ungkap anak cowok itu sambil berlalu pergi. Aku hendak membalas tapi keburu dicegah Putri. “Aku tak apa-apa, Ratu”.

Sejak kejadian itu, Ratu mulai menjauhiku. Ketika aku sapa, ia membuang muka seakan tak mengenalku. Ketika aku ajak mengobrol, ia lantas pergi begitu saja lalu bergabung dengan teman yang lainnya. Sikapnya makin membuatku jengkel sekaligus penasaran. Oleh karena itu, aku memilih pergi ke rumahnya untuk bicara baik-baik dengan Putri.

Sayangnya, ketika aku mengunjungi rumahnya., kabar tak terduga mengagetkanku. Putri akan pindah ke Australia. Secepat ini. Aku tak percaya padahal aku hendak menanyakan perihal mengapa ia menjauhiku. Barulah saat Putri bersedia menjelaskan alasannya setelah tiga kali kunjunganku yang tertolak, aku menggenggam janji masa kecil.

“Tak ada apa-apa. Aku hanya khawatir kau dianggap buruk karena berteman denganku. Makanya aku menjauh sementara. Lagipula Ratu sepertimu hanya pantas untuk Raja bukan Raja gadungan seperti aku. Meski namaku ada embel raja tetap saja aku seorang perempuan. Tak mungkin kan aku menyukaimu. Kita hanya berteman. Jangan lupakan aku ya”. Ujar Putri yang tak ku pahami sepenuhnya.

“Ehm...sebelas tahun lagi kita akan bertemu di taman kota. Janji ya”. Putri mengangguk, tersenyum menyanggupi janji yang begitu saja keluar dari mulutku.
***

Dan disinilah aku berada. Menanti kehadiran Putri yang tak kunjung datang. Sudah hampir 2 jam aku menunggu. Sosok Putri tak juga nampak batang hidungnya. Jingga raksasa pun berangsur-angsur menjadi gelap. Orang-orang juga sudah banyak yang pulang ke rumah. Aku menggigit bibir. Putri pasti datang. Putri pasti datang. Namun nyatanya hingga hanya aku sendirian yang berada di taman, Putri tak juga datang. Aku memutuskan pulang. Tak ada gunanya menunggu lebih lama lagi. Putri takkan datang.

Tiba di rumah, aku juga tak mendapati kabar kedatangan Putri ke rumah. Hari-hari selanjutnya pun sama saja. Membuatku murung sepanjang harian. Tak berselera makan apalagi melakukan kegiatan.
***

“Ratu, ada tamu. Bukakan pintunya”. Aku yang sedang berada di ruang tengah berjalan gontai menuju pintu rumah. Dan mendapati sosok pemuda tampan. Hey, wajahnya nampak asing bagiku tapi aku serasa telah mengenalnya lama. Ia tersenyum. Lalu memperkenalkan namanya. Raja.

“Ada Ratu nya tidak?”. Tanyanya sekali lagi. Aku menjawab gagap. “Ah ya, aku sendiri yang bernama Ratu. Maaf, silahkan masuk”. Aku menyilahkan tamu lelaki ini masuk ke dalam rumah. Sepersekian detik tadi aku melongo mendengar nama lelaki itu. Raja. Aku menggeleng-geleng pelan. Teringat kata-kata Putri sebelas tahun yang lalu. Ditambah fakta bahwa belum ada seorang temanku pun yang bernama Raja. Jadilah aku berpikiran macam-macam. Jangan-jangan. Dan jangan-jangan.

“Ada maksud apa kedatangan...ehm...Raja ke rumahku? Apakah kita saling mengenal?”

“Sebenarnya aku adalah sepupu Putri, Maharaja Putri. Aku ingin memberikan kabar tentangnya. Bahwa dia........”. Kalimatnya menggantung, membuatku was-was.

“Bahwa dia apa.....?”.

“Dia telah meninggal dunia 7 tahun lalu”. Ungkapnya lemah.

“Tak mungkin. Itu mustahil. Selama ini, aku sering bertukar kabar dengannya. Lantas kalau ia sudah meninggal dunia. Siapa yang selalu menjawab pesan email ku tiap hari?”

“Itu aku. Putri menyuruhku untuk berkomunikasi denganmu sepeninggal dirinya. Ia tak mau kau tahu tentang kejadian naas yang menimpanya. Bahkan janji kalian sebelas tahun yang lalu, ia limpahkan kepadaku. Ia menyuruhku menjagamu, Ratu. Ia berharap kau takkan bersedih ketika tak ada lagi dirinya”.

Aku nyaris terjatuh mendengar kenyataan yang mencengangkan dari mulut seorang Raja. Tak mungkin. Tak mungkin Putri sudah meninggal. Aku tak terima. Tubuhku sontak berguncang kuat. Aku menahan tangis sedari tadi mendengar penuturan Raja.

Kini bulir-bulir air mata jatuh begitu saja disaksikan Raja. Setiap kali aku mencoba menolak kenyataan itu, setiap kali pula bukti-bukti yang ditunjukkan Raja padaku memperjelas semuanya. Aku terenyuh. Raja menatap prihatin padaku.

“Maaf harus menemuimu dalam keadaan yang tak menyenangkan. Aku tak bermaksud membuatmu bersedih. Semoga esok kita bisa bertemu dengan keadaan lebih baik. Aku akan lama berada di sini. Aku hendak melanjutkan studi ku di sini. Ku harap kita bisa berteman seperti pinta Putri”.
***

Meski aku syok dengan kabar Putri selama beberapa hari kemarin. Aku tak ingin lagi berlama-lama mengenangnya dengan kesedihan. Akhirnya ku putuskan menemui Raja. Bernostalgia bersama Raja dengan topik seputar Putri akan jauh lebih menenangkan.

Keesokan harinya, aku menemui Raja. Tak sulit menemui Raja sebab ia tinggal di rumah Putri yang dulu. Raja pun juga menyambutku dengan ramah. Seakan ia telah lama mengenalku, ia membuat percakapan di antara kami tak menjadi canggung.

Aku baru tahu. Raja pernah menyelesaikan studinya di Australia. Di sanalah, Putri dan Raja mulai menjalin hubungan yang lebih intens layaknya sebuah keluarga. Bosan di Australia, ia memilih balik ke Indonesia, belajar studi yang baru di perguruan tinggi di kota kami.

Sepanjang hari itu, Raja setidaknya berhasil mengusir kesedihan yang mengungkungku. Berganti dengan keceriaan yang sama persis diciptakan oleh Putri di masa lalu.

Lambat laun, hubungan kami pun semakin dekat. Menorehkan segumpal perasaan yang belum pernah ku temui. Kini, tiap bertemu Raja, mukaku sontak memerah. Seperti muda-mudi yang sering kulihat di taman. Tapi aku tak berani menanyakan kejelasan hubungan kami. Apakah ia suka aku? Apakah aku hanya teman baginya? Aku tak berani. Hanya menerka-nerka. Menganggap diriku tak pantas untuk seorang Raja yang tampan, pintar, dan berbakat dalam segala hal.
***

Hari ini kami janjian bertemu, ada bakti sosial di rumah buku tempatku bekerja. Aku menjemputnya. Raja sepertinya masih sibuk berbenah diri. Ia menyuruhku masuk saja ke dalam kamar yang sebenarnya kamar Putri. Aku ragu. “Tak apa. Daripada di ruang tamu, mending di kamarku menonton TV. Aku masih agak lama jadi kau akan baik-baik saja”. Baiklah, aku mengangguk.

Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam kamar Putri setelah sekian lama. Tak banyak yang dipermak oleh Raja. Aku memutuskan untuk berkeliling mengitari kamar. Terkadang terhenti sejenak di sudut tertentu, mengenang kebersamaan kami. Tak sengaja, di meja belajar, mataku menemukan sebuah bingkai foto yang terjelungkup ke bawah.

Iseng, aku pergi menuju ke meja belajar. Ku coba membuka bingkai foto tersebut. Ternyata foto Putri waktu kecil. Dan ketika itulah peristiwa mengejutkan lainnya datang. Di bawah bingkai foto itu terdapat amplop coklat berukuran besar yang tak sengaja terjatuh di kakiku. Ini apa? Rasa penasaranku membuncah. Aku membukanya.
***

“Aku sudah siap Ratu. Ayo kita berangkat”. Raja membuka pintu dan heran melihatku yang melongo sambil menggenggam sesuatu. Raja seketika sadar. Rahasianya mulai terkuak.

“Apa maksud dari isi amplop ini? Di sini identitasmu tapi mengapa yang melakukan operasi adalah Putri? Siapa kau sebenarnya Raja? Jangan membohongiku”. Teriakku gusar.

“Ku mohon jangan marah dulu, Ratu. Aku tak bermaksud membohongimu. Haaaaah....itu memang aku. Aku adalah Putri, tapi itu masa lalu. Sekarang aku adalah Raja”.

“Kau memang pembohong besar. Aku tak ingin mengenalmu. Minggir”. Aku menggeser paksa tubuh Raja yang menutupi pintu kamar. Tapi Raja dengan cepat menggenggam tanganku.

“Kau tak mengerti. Ini lebih rumit dari yang kau pikirkan. Sungguh, aku tak berniat membohongimu”.

“Lantas apa?” Isakku lemah, masih membelakangi Raja.

“Ka....karena....aku menyukaimu. Dari dulu, sejak masa kecil. Ah ini, terlalu rumit. Kabar burung itu benar, Ratu. Aku menyukaimu. Semakin lama aku berada di dekatmu, semakin besarlah rasa suka itu. Barangkali malah menjadi rasa sayang yang teramat besar. Bukan seperti sesama teman. Tapi lebih dari sekedar teman, seperti lawan jenis. Aku tahu kau adalah gadis normal. Tapi tidak denganku, aku mengidap ambigous genitalia atau istilahnya kelamin ganda. Pantas saja, aku memendam perasaan kepadamu yang tak lazim dipandang orang. Kau tahu, sakit rasanya mendengar kau dijelek-jelekkan karenaku. Makanya aku putuskan untuk pergi ke luar negeri, mencari jawaban. Ketika hari janji masa kecil itu, aku sebenarnya telah datang, tapi tak berani menemuimu. Aku khawatir kau takkan menerimaku sama halnya saat ketidakterimaanmu dikatakan lesbian. Untuk itu, aku mengarang cerita ini. Secara harfiah pun, Putri telah mati. Kini, aku adalah Raja. Ku mohon terimalah kenyataan ini”. Pintanya getir.

“Lepaskan aku”. Aku tak menggubris pintanya. Pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Meninggalkan Raja yang terkulai tak berdaya.
***

Aku tak tahu hendak kemana. Ku turuti saja langkahku pergi. Tahu-tahu sudah tiba di taman kota. Duduk di bangku panjang. Dalam isakan yang mulai menderas, kesadaranku membaik.. Seketika aku berlari kecil menuju pohon besar di taman. Di sana ada capsule time milik aku dan Putri. Aku menggalinya. Sejak dulu, aku selalu penasaran apa yang dituliskan Putri dalam secarik kertas di capsule time itu.

Kotak itu kini ada di hadapanku. Lantas aku membukanya. Aku terperangah membaca kertas Putri. Lalu berlari kencang menuju kediaman Raja. Setiba di sana, aku mendapati tatapan nanar yang berubah kaget melihatku ngos-ngosan hadir di kamarnya.

“Namaku Ratu. Hanya Ratu. Aku menyukaimu, Raja”. Ucapku mantap.

Di hadapanku Raja menangis perlahan lalu menjawab,” Namaku Raja. Dan aku menyukaimu, Ratu. Dari dulu, kini, dan sekarang”.
***  

Ratu untuk Raja. Dan Raja untuk Ratu. Selalu begitu. Pasti.
 

Salam sayang dariku,
Seseorang yang krisis identitas ^_^

Senin, 20 Januari 2014

Senandung Cinta dalam Hujan

Sore ini, sempurna awan hitam mengungkung langit. Menyembunyikan senja yg terbalut warna merah di balik hari. Tak ada lagi keramaian. Hanya senyap dan gemuruh angin saling bersahut-sahutan.

"Ah, sepertinya, hujan lebat akan turun malam ini. Tidak. Tidak malam. Mungkin saja sebentar lagi," desah seorang gadis di balik jendela, Rima namanya.

Lama benar, ia menikmati pemandangan di luar sana. Meskipun hanya gelap yg kini mulai bertandang di langit sore ini. Tapi ia tak bergeming. Sama seperti tak bergemingnya ia ketika peristiwa menyedihkan itu terjadi beberapa hari yg lalu. Ia hanya terpaku, membisu.

************************************************************
"Tidak bisa, Ma. Aku sibuk. Banyak tugas kuliah yg menumpuk. Bukankah teman-teman yg lain ikut serta?" ujar gadis tersebut pada temannya.

"Tapi mereka menunggu kedatanganmu. Kau lah yg paling mereka cari. Bukan yg lain. Tidakkah kau sedikit saja meluangkan waktumu?"

Gadis itu acuh, tak menghiraukan. Ia kukuh pada pendapatnya. Ada banyak hal yg harus ia urus. Urusan ini pastilah banyak yg berpartisipasi. Jadi cukuplah untuk mewakili ketidakhadirannya.

"Baiklah. Terserah mu saja," jawab sang teman sembari menghela napas.
**************************************************************
"Kak Rima. Kak Rima. Ada tamu. Cepetan Ka," panggil adiknya yg muncul di balik pintu kamar

Rima yg tengah mengerjakan paper, menoleh pada adiknya. Ia termangu. "Hujan deras begini, ada yang mencariku?" bisiknya dalam hati. "Ayolah, Ka. Kasihan tamu kakak basah kuyup. Ia tak mau disuruh masuk. Katanya ada hal darurat yang harus kakak tahu," kata sang adik sambil menarik tangan Rima yg masih terdiam.

Rima yg sontak menyadari ada yg ganjil, lantas mengikuti langkah sang adik menuju teras rumah. Dan di sanalah, ia menemukan Aira dengan wajah sendu.

"Kau kenapa? Ada apa? Ayo, masuklah dulu ke dalam. Kau basah kuyup".

"Tidak, Rima. Aku tidak bisa. Waktunya terbatas. Kau harus tahu hal ini".

"Maksudmu?"

Dengan patah-patah, Aira menjelaskan suatu kejadian yg membuatnya tercengang. Tidak. Tidak. Tidak. Gemerutuk giginya menahan emosi yg hendak keluar.

"Rumah buku itu musnah hancur ditelan api. Tak tahu darimana asal muasal api itu datang. Seketika lenyap tak berbekas. Anak-anak selamat kecuali......kecuali....," kalimatnya terhenti, membuat penasaran Rima yg mulai tak sabaran.

"Kecuali Rangga dan Sinta. Kami tak dapat menemukan mereka di manapun. Mereka sempurna menghilang setelah tahu kabar kau tak hadir. Mereka marah dan bersembunyi entah di mana. Kami tak tahu keadaan mereka, Ma. Kau harus ikut aku. Karena kau yg paling dekat dengan mereka".

Tanpa ba bi bu, Rima melangkah masuk ke rumah. Lantas mengambil keperluan yg cukup ia bawa. Bersama-sama dengan Aira, ia pergi ke rumah buku tersebut. Rima mendesah semakin kuat. "Kumohon, Rangga dan Sinta, kalian baik-baik saja".

Sayangnya kenyataan tersebut berbanding terbalik dengan pengharapannya. Sesampainya di rumah buku, Rima rusuh memasuki bangunan tersebut. Sempat beberapa kali, ia ditahan oleh polisi. Tapi ia kepalang khawatir. Akhirnya, polisi tersebut memperkenankannya masuk ke dalam TKP sambil didampingi Aira dan beberapa polisi tanggung.

Tak perlu lama, Rima menemukan dua bocah itu terbujur kaku sambil berpelukan. Air mata Rima meleleh seketika. Kedua bocah yg amat disayanginya itu tak selamat. Tubuh Rima bergetar kuat, menyaksikan kepedihan yang di luar kuasanya. Aira berusaha menghibur. "Bersabarlah".

"Ini salahku. Seandainya aku hadir ke sini. Pastilah mereka selamat. Ini salahku. Ini salahku. Aku membunuh mereka dengan ego ku".
**************************************************************
Usai kejadian naas itu, Rima sering uring-uringan. Ia tak mau makan. Mengurung diri. Mengutuk dirinya atas kejadian itu. Perlu beberapa hari, hingga akhirnya Rima mau bangkit lagi. Ketika Aira membawakan surat untuknya. Ketika ia membaca surat itu, lantas menangis di pelukan Aira.

"Ka Rima. Maafkan kami yang sempat marah pada kakak. Kami sayang Ka Rima karena Allah".
**************************************************************
Dugaan Rima tepat. Hujan mulai turun membasahi bumi sore ini. Ia menghela napas panjang. Hujan ini mengingatkannya pada dua bocah itu, luka, dan penyesalannya. Namun ia harus tetap melangkah maju. Peristiwa itu memang menjadi hantaman keras bagi batinnya. Namun, ia mesti bijak mengambil hikmah di dalamnya. Kedua bocah itu melahirkan pemahaman baru yang lebih baik baginya.

Puas memandangi hujan, Rima balik arah menuju laci belajarnya. Membuka kotak kecil berwarna biru muda. Ia tersenyum. "Ka Rima pun sayang pada kalian karena Allah," mengucapkannya sembari memegang secarik kertas koran berisikan :

"Ditemukan dua bocah berinisial R dan S meninggal dalam keadaan berpelukan ketika kebakaran rumah buku terjadi beberapa hari yg lalu. Yang menarik dari peristiwa ini, tubuh kedua bocah tersebut tidak terpanggang dimakan api. Tubuh mereka bersih dan bercahaya. Disinyalir kematian mereka disebabkan ketika mereka tertidur, tanpa sadar telah banyak gas CO2 yang mereka hirup. Ini salah satu keajaiban Tuhan. Bahwa Tuhan pun menyayangi mereka dengan mengambil roh mereka kemudian mengangkat mereka di sisi-Nya dengan kebakaran ini................................"

Senin, 17 Desember 2012

Nalika dan Mimpinya


   Biarpun aku berada di kerumunan orang-orang itu. Aku tetap merasa sepi. Mungkin mereka benar. Aku bukanlah orang yang cocok bergaul di lingkungan mereka. Aku pantasnya berteman dengan sepi. Aku mendesah. Lagi-lagi aku menyangkal. "Diriku bukan tak memiliki teman. Ah...tentu saja aku punya. Mereka saja yang tak tahu menahu" ujarku menyemangati diri. Sore itu, langit tampak kelabu, seolah-olah ikut mengejek nasib buruk yang menimpaku. Tapi, aku tak peduli. Berkas-berkas pendaftaran itu lebih menyita waktuku. Aku menyadari bahwa aku membiarkan sepersekian detik tadi menyeretku pada proyeksi peristiwa kemarin lalu. Aku menggeleng-geleng sambil menggerutu,"Enyah kau". 
   Seusai berkata seperti itu, aku meneruskan kembali pekerjaanku. Tak perlu waktu yang lama, pekerjaanku pun selesai. Setengah jam kemudian, berkas-berkas itu pun telah tersusun rapi di meja belajar. Esok pagi, berkas-berkas itu harus segera diserahkan ke Mba Sita.
******************************************
   "Mba, besok aku izin gak masuk ya. Ada ujian".
   "Oke, mba izinkan. Tapi jangan lupa kerjaanmu ya. Minggu depan deadlinenya".
   Ku acungkan jempolku tanda setuju seraya tersenyum melihat Mba Sita yang masih menaruh perhatian padaku sedari tadi padahal ia begitu banyak pekerjaan. Setelah memohon izin pada Mba Sita. Aku pamit keluar dari ruangannya. Lalu, bergegas pergi menuju meja kerjaku. Ku bereskan semua barang-barangku. Kemudian, aku pergi dari kantor kecil itu.
*****************************************
   Braak..bruuk...brak.....buku-buku dan semua yang ada di meja belajar hancur berantakan. "Salahku apa pada mereka. Kalau mereka tak menyukaiku tak mengapa. Tapi, jangan menghancurkan impianku. Impian yang selama ini ku perjuangkan. Mereka kejam," isakku tergugu di pojok kamar.
   Ya, hari ini tiba-tiba Pak Anwar memanggilku. Aku bingung saat itu, tumben sekali Pak Anwar memanggilku secara mendadak. Ternyata, ia memberikanku hukuman, aku diskors selama 1 bulan karena ketahuan bekerja diam-diam tanpa seizin pihak sekolah. Aku terhenyak, sejauh ini tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa aku memiliki pekerjaan sampingan di luar sekolah. Aku memang sengaja merahasiakannya karena pihak sekolah secara tegas melarang para muridnya bekerja. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak punya uang sedangkan mereka (yang mengatakan bahwa mereka adalah teman-temanku) terus mengambil paksa uang yang ku miliki. Mereka bilang, "Uang ini buat bersama, kau kan teman kami, jadi semua teman yang ada di kelompok kita termasuk kamu harus saling menyumbangkan uangnya. Masa enak-enakkan gak keluarin uang sih. Ga fair tau".
   Saat itu, aku mengikut saja. Aku berusaha sebisa mungkin untuk memiliki uang yang cukup bila mereka membutuhkannya. Aku tak bisa mengatakannya pada ibu, bagaimanapun aku telah bertekad takkan meminta uang sepersen pun dari ibu setelah aku berada di Banjarmasin. Hal ini ku lakukan agar uang yang ibu kumpulkan dapat membiayai sekolah Andra, adikku. Aku hanya bertumpu pada pemberian uang saku yang tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari di sini.
   Terpontang-panting mencari pekerjaan yang bisa ku lakukan secara diam-diam terus ku lakoni. Tadinya aku ingin berhenti saja, tak lagi melanjutkan untuk bekerja. Lambat laun pun aku juga menyadari bahwa mereka hanya memanfaatkanku saja. Ya, mereka memanfaatkanku karena sebagai anak baru, aku berhasil menyabet beberapa prestasi belum lagi ditambah dengan pencalonan ku menjadi siswa teladan tahun ini. Mereka iri. Awalnya saja mereka bermuka malaikat di hadapanku, meyakinkanku akan ketulusan sebuah persahabatan lalu setelah itu aku dijatuhkan dengan telak.
   Desas-desus mengenai diriku yang menjadi babu mereka itu sebenarnya telah tercium lama namun aku menyanggahnya. Lalu, baru ku ketahui bahwa berita itu benar adanya ketika pentas drama di sekolah diadakan. Dengan gamblangnya mereka berkata," Iya, memang kami memanfaatkanmu hanya karena kamu itu pintar. Selebihnya nothing. Kamu tetap cupu, ngebosenin, gak gaul. Pantas saja, kamu sering menyendiri. Memang cocoknya kamu berteman sama kesepian bukan sama kami. Seharusnya, kamu itu bersyukur karena kami mau berteman sama kamu. Ini malah sok-sok suci. Pergi deh cupu dari hadapan kami. Malam ini kamu keluar dari kelompok kami".
   Tubuhku kembali bergetar hebat, melawan ketidakberdayaan atas kejadian yang saat ini ku alami. Aku tahu bahwa merekalah pelakunya namun tak ingin ku perpanjang masalah ini berlarut-larut. Cukup aku saja, bukan yang lain. Di tengah-tengah kepiluanku, aku mengingat perkataan Pak Anwar siang tadi. "Saya berikan skors selama 1 bulan atas pelanggaranmu ini, Nalika. Akan tetapi, kau pun harus segera berhenti dari pekerjaanmu itu. Kalau tidak, dengan berat hati, saya terpaksa mengeluarkanmu dari sekolah ini. Paham ?"
   Tak ada anggukan ataupun tanda persetujuan yang kuberikan pada Pak Anwar siang itu. Aku hanya berbalik pergi sembari memohon diri keluar dari ruangannya. Dan kini, di sinilah aku berada, nyaris putus asa memecahkan masalahku ini.
   Sejujurnya, aku tak ingin berhenti bekerja. Aku sudah kerasan bermitra dengan Mba Sita di kantor majalah kecil miliknya. Apalagi, setelah ku jalani selama 6 bulan ini, aku tahu bahwa aku sangat menyukai pekerjaan ini. Aku tahu bahwa aku memiliki bakat di bidang ini. Dan aku pun memiliki cita dan harapan yang tinggi ke depannya untuk segera menggapai angan tersebut menjadi nyata. Bermula ketika mba Sita mempercayakanku untuk magang terlebih dahulu di bagian kepenulisan seperti cerpen dsb. Lalu, mengikutsertakanku sebagai panitia lomba cerpen se-Banjarmasin. Ah, betapa menyenangkannya pekerjaan ini.
   Tapi, segalanya kandas begitu saja seusai Pak Anwar mengklaim peryataannya. "Apa yang harus ku lakukan ? Aku tak ingin berhenti bekerja tapi aku juga tak ingin keluar dari sekolah itu"
***********************************************
   Pada akhirnya, aku pun secara resmi keluar dari sekolah itu. Aku menerima keputusan Pak Anwar yang tak menerima ku lagi menjadi murid di sekolahnya dengan lapang dada. Ibu yang ku kabari berita tersebut via telepon, terdengar pasrah saja. "Ibu, tak usah khawatir dengan Nalika. Nalika akan baik-baik saja. Nalika tetap akan sekolah. Yang terpenting, ibu yakin dengan Nalika bahwa Nalika pasti bisa jadi orang yang berhasil dan membanggakan buat keluarga", ujarku pada ibu, berusaha membuat bidadari ini tak patah semangat terhadap cobaan yang tengah ku hadapi.
   Setelah mengabari ibu, juga berpamitan dengan sebagian warga sekolah itu, aku beranjak pergi menuju gerbang sekolah. "Nalika, tunggu". Aku menoleh, berputar balik menghadap suara yang memanggilku. "Maafkan kami, Nalika. Kami sudah banyak berbuat jahat terhadapmu. Kami sekarang sudah menerima hukuman kami. Dan kami janji takkan mengulangnya di lain waktu".
   "Ya, sama-sama. Aku juga minta maaf dan terima kasih untuk kebaikan kalian selama ini. Maaf, aku harus pergi", jawabku singkat sembari berbalik arah, membelakangi mereka.
   Pintu gerbang sekolah semakin dekat saja dari pandanganku. Tak ada perasaan putus asa maupun bias kekecewaan yang ku pancarkan hari ini, hanya lega yang terasa jauh luar biasa menyinari dinding hatiku. Mereka yang menjahatiku akhirnya diberikan hukuman oleh Pak Anwar setelah seorang murid memberitahu beliau tentang kejahatan mereka terhadapku. Dan aku sebagai seorang Nalika, yang terkenal dengan kesepiannya kini tak lagi merasa sepi sebab di sampingku ada Mba Sita yang memegang erat tanganku hingga menghilang dari sekolah ini.
   Mba Sita yang melihat sikapku, tersenyum manis sambil berkata," Yuk, Nalika. Waktunya kamu melihat sekolah barumu, masa depanmu". Aku pun membalas," Terima kasih Mba Sita".

Kamis, 26 Januari 2012

Sayap Mimpi dalam Istana Impian




     Siang ini, matahari tersenyum merona, menyembulkan aura panas kepada makhluk-makhluk yang bernaung  di muka bumi. Di salah satu sudut dunia, seorang gadis tengah berlari menerobos keluar dari ruang kuliah. Nampaknya, ia mulai terengah-engah, kehabisan energi. Belum lagi, teriknya matahari terasa menyengat di ubun-ubun kepala gadis itu. Beruntunglah, si gadis tiba juga di tempat tujuannya, perpustakaan kampus.
Setelah mengisi buku tamu, gadis tersebut segera mengambil tempat duduk yang letaknya tak jauh dari pintu masuk sembari membuka tasnya lalu mengeluarkan laptop. Tak berapa lama kemudian, ia hanya menatap kosong laptop yang ada di hadapannya. Airin Dhawiyah, nama gadis itu. Kini, dirinya tengah dilanda kebimbangan yang luar biasa.
Airin mendesah lemah. Beberapa menit yang lalu, ia sengaja mengirimkan sebuah pesan pada seseorang di sana, seorang pemuda dengan segala lakunya memberikan kesempatan bagi Airin untuk memulai kembali meniti impian-impian yang pernah tenggelam. Syukurlah, Airin mendapatkan restu darinya. Ya, Airin meminta izin pada orang tersebut agar berkenan dijadikan karakter tokoh dalam cerita pendeknya kali ini. Namun, masalahnya, Airin bingung memposisikan dirinya dalam cerita itu sebagai apa. Bila hanya sebagai dirinya, Airin tak banyak tahu tentang pemuda tersebut. Sedangkan, bila ia beranggapan sebagai pemuda itu, Airin harus tahu secara detail seluk-beluk kehidupan si tokoh. Setidaknya, ia bisa mendapatkan beberapa fakta yang ia butuhkan sesuai proporsi cerita. Tetapi, Airin menggeleng, mustahil ia berada dalam posisi pemuda itu.
Hatinya miris. Padahal Airin mengenal pemuda itu sejak empat tahun yang lalu tapi tetap saja ia merasa dirinya kurang mengenal baik sosok tersebut. Airin jadi teringat kata-kata seorang penulis terkenal, Mbak Helvy Tiana Rosa di akun facebook beliau beberapa hari yang lalu.
“Kadang kita merasa sangat mengenal seseorang. Namun, sesungguhnya tidak. Kita hanya merasa mengenal lalu kenyataan menghempaskan kita pada hari-hari perih yang harus kita pulihkan sendiri”.
Diam-diam, Airin setuju dengan pendapat beliau. “Kita mungkin mengenal tapi belum tentu mengetahui,” bisiknya dalam hati. Sebenarnya, ia tak perlu ambil pusing untuk membuat cerita akan menjadi apa. Bukankah, ia yang menulisnya. Bukankah, ia yang bermain-main dengan imajinasi dan khalayannya. Tapi tidak, tidak untuk cerita ini. Airin ingin cerita ini hidup dengan realita yang ada. Cerita yang benar-benar memang terjadi pada sosok yang digambarkannya bukan fiksi semata. Memang, tujuan dirinya membuat cerpen ini untuk diikutkan pada ajang lomba bergengsi. Akan tetapi, jauh di lubuk hatinya, Airin tulus mempersembahkan cerita ini untuk pemuda tersebut. Airin hanya berkeinginan agar pemuda tersebut tahu bahwa keberadaannya menjadi anugerah terindah bagi hidup Airin.
Wajah Airin kian lesu. Pada akhirnya, tak ada hal apa pun yang dapat ia kerjakan. Ia memasukkan kembali laptop yang sedari tadi menjadi bahan pelototannya. Lalu, beranjak pergi, mencari ketenangan diri.
Langkahnya yang gontai membimbingnya menuju pelataran masjid yang tak jauh dari kampusnya. Bersegeralah Airin berwudhu, menyempatkan sejenak untuk shalat tahiyyatul masjid lalu mengerjakan shalat sunah Duha. Airin bersyukur, waktu Duha belum berakhir.
Bagi Airin, tiap-tiap detik yang dilaluinya dengan bermunajat pada sang Khalik, mampu mengusir gundah dan jemunya menapaki dunia yang digelutinya. Mengembalikan pikirannya menjadi jernih seusai mengulum tangis di sela-sela kekhusyukan berdoa. Airin berharap, dirinya bisa kembali seperti sedia kala agar ia dapat segera menyelesaikan cerpen itu.
Jam di dinding masjid menunjukkan pukul 11.30 WITA. Tak lama lagi, waktu untuk menunaikan shalat Dzuhur akan tiba. Karenanya, Airin memutuskan untuk menetap lebih lama di dalam masjid.
Mukena yang sedari tadi membungkus tubuhnya, ia lepaskan dan dirapikannya sambil beranjak bangkit dari posisi shalatnya. Airin beringsut perlahan-lahan, mencari letak yang nyaman untuk beristirahat. Kemudian, ia memasukkan mukena ke dalam tas abu-abu miliknya, dan bergantilah mukena itu menjadi beberapa lembar kertas putih dan sebuah pena. Kali ini, Airin lebih memilih kedua benda tersebut untuk menemaninya melanjutkan cerpen yang ia buat. “Lebih santai juga menenangkan”, pikirnya dalam hati.
Di sela-sela pena menggoreskan untaian kata-kata lembutnya, Airin terkenang akan masa lalunya. Masa di mana, sosok pemuda tersebut pernah hadir dalam warna hidupnya. Saat itu, saat ini juga di masa depan. Karena Airin tak akan pernah melupakan keberadaan pemuda itu selama hidupnya.
Kala itu merupakan masa pergantian kelas. Anak-anak seusia Airin kian berkeliaran mencari kelas barunya. Ya, saat Airin menginjak kelas X IPA di semester II dan di sanalah, di kelas itu, Airin mengenal pemuda tersebut untuk pertama kali.
Airin tak pernah membayangkan bagaimana mungkin tubuhnya dengan ringan menyapa pemuda itu. Padahal ia tahu, ia bisa saja menjadi sangat pemalu. Belum lagi, Airin harus menghadapi teman-teman perempuannya yang berebut berkenalan dengan pemuda itu. Airin terhenyak, ia baru sadar telah melewati kejadian konyol itu. Sejujurnya, Airin bukan lah tipe yang mudah bergaul dengan orang termasuk para lelaki. Namun, pada pemuda itu, Airin merasa sayang bila tak mengenalnya. Ada sesuatu yang menggerakkan hatinya untuk bisa memahami lebih jauh kehidupan pemuda itu. Saat itu, Airin merasa ingin menjadi teman terdekatnya secara tiba-tiba.
Nama pemuda itu Faiz. Lengkapnya Faiz Azmi Sauqi. Ya, Faiz lah yang beberapa waktu lalu ia kontak. Faiz juga lah yang membuat dirinya nelangsa dalam menulis cerita saat ini. Akan tetapi, hanya pada Faiz lah, Airin harus mengakui, dirinya berani membumbungkan segenap mimpinya dalam istana impian milik Faiz.
“Allahu Akbar….Allahu Akbar…..”.
Airin tersentak dari lamunannya. Nampaknya, adzan Dzuhur telah berkumandang. Sebaiknya, ia mesti bersiap-siap untuk menunaikan shalat. Diliriknya lembaran kertas yang ada di genggaman tangannya. Terlihat coretan-coretan yang berantakan mengisi lembaran kertas itu. Sepertinya, jari-jemari Airin bekerja sangat baik selagi ia melamun. Nanti, ia akan merevisi tulisan tersebut saat ia tiba di rumah. Sekarang, ia mesti bersua dengan pencipta-Nya, Allah Azza Wa Jalla.
Tiara menatap nanar di balik tirai jendela. Hujan masih saja mengguyur hingga petang ini seolah menjawab hatinya yang tak henti menguraikan tetesan-tetesan bening di matanya. Sungguh, di saat pikirannya jenuh seperti sekarang, tak khayal Tiara menginginkan kehadiran sahabatnya lah yang sedikit demi sedikit bisa mengikis gundahnya. Tapi, kini, ia harus berdiri sendiri. Oh, betapa rindunya Tiara pada sahabat pelanginya, Rara, Ana, Lastri, Ali, Taufan, Randi, dan Ilham.
Ilham, nama itu sontak membuat Tiara terkejut. Dihapusnya bulir mata yang tersisa di pelupuk mata, lalu Tiara mulai mengingat Ilham. Ilham Prasetya, pemuda yang pertama kali ia izinkan masuk dalam hidupnya. Tiara tersenyum miris. Bukan maksud Tiara tiada berkenan menghadirkan orang lain dalam hidupnya, tapi Tiara amatlah penutup. Ia tak mau orang lain mengetahui perjalanan takdirnya. Oleh karena itu, sahabatnya pun dapat dihitung dengan jari. Namun, pada Ilham, Tiara tak menemukan alasan apa pun untuk tak berbagi dengan pemuda itu. Meski terkadang, Tiara selalu kalah ketika berdebat bersama Ilham.
Bagi Tiara, sosok Ilham adalah sosok yang pintar, ramah, religius, juga memiliki semangat yang tinggi. Tiap kali, Tiara menatap Ilham. Di saat itulah, Tiara selalu dapat melihat pancaran bola mata Ilham berbinar-binar dengan cahayanya yang tajam. Seakan-akan, Ilham ingin mengatakan “Aku adalah raja dari istana impian ku. Tidak ada seorang pun yang boleh menghancurkan ataupun mengambil hak itu dari tangan ku. Akan tetapi, jika ada yang mau meraih mimpinya, aku akan bantu dirinya lewat sayap-sayap mimpi dari istana impian ku untuk mewujudkannya”.
Dari keenam sahabat pelangi juga Tiara, hanya Ilham lah yang kokoh menegakkan istana impian di daratan yang asing. Ya, ketika Tiara juga sahabat lainnya memutuskan melanjutkan kuliah di sini sedangkan Ilham merantau ke Australia untuk menuntut ilmu. Masih membekas di benak Tiara kala Ilham mengiriminya sebuah pesan sebagai tanda perpisahan. Padahal, saat itu, Tiara tengah menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Hatinya bukan main tak karuan. Satu sisi memikirkan ujian, sedang sisi lainnya memikirkan Ilham. Tiara tahu tak pantas ia menghalangi Ilham membuat istana impiannya ada. Akan tetapi, masihkah ia bisa menerima kebaikan dari pemuda itu meski rentang jarak yang jauh? Tiara diam, ia bingung bagaimana mesti bersikap ketika bertemu Ilham. Jujur, bila bisa, ia tak ingin bertemu Ilham sampai pemuda itu benar-benar pergi.
Sayangnya, harapan Tiara tak terkabul. Pagi itu, ketika Tiara hendak melaksanakan shalat Duha selagi menunggu waktu tes masuk perguruan tinggi tiba, ia bertemu Ilham di pelataran masjid tanpa sengaja. Beberapa saat, keduanya terlibat obrolan yang santai. Menurut Tiara, kebahagiaan yang ia rasa ketika melihat Ilham. Entah, apakah sama yang Ilham rasakan saat bertemu dirinya. Tiara tak ingin tahu.
Pada Ana, Tiara ceritakan pertemuan tak terduga itu. Lalu, muncullah sebongkah kalimat indah “Cinta Ku Berlabuh di Masjid”. Kata-kata inilah yang acapkali terlintas pada kedua sahabat tersebut sembari bersua di waktu senggang. Walaupun, subjek yang dimaksud sebenarnya ditujukan buat Ilham. Akan tetapi, Ana dan lainnya juga rupa cinta buat Tiara. Rupa dengan pesona ketulusan yang dikirimkan oleh Allah SWT sebagai anugerah dalam langit kehidupan Tiara. Tiara pernah mendengar kalimat bijak yang mengatakan “Cintailah orang-orang yang bisa mendekatkan mu pada Tuhan mu”.
“Airin, ada telepon untuk mu.”
“Iya, Bu. Sebentar”.
Mendengar panggilan ibunya, Airin segera menghentikan kegiatan menulisnya. Ia istirahatkan sejenak laptopnya kemudian bergegas menghampiri telepon di ruang tamu. Ternyata, teman kuliahnya hendak bertanya perihal materi UAS yang akan diujikan mendatang. Setengah jam kemudian, Airin telah berada pada posisinya semula. Sesaat, ia mulai membuka-buka file untuk merehatkan pikiran dan matanya pun terhenti karena sebuah hadis.
Dari Abdullah bin Mughafal al Muzani ia berkata, Rasulullah bersabda,”Takutlah kepada Allah dalam masalah sahabatku (beliau mengucapkannya) 2 x . Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai obyek kritikan sesudah meninggalku. Siapa mencintai sahabatku maka demi rasa cintaku aku mencintainya dan barang siapa membenci sahabatku maka demi rasa benciku aku membencinya. Siapa menganiaya sahabatku maka ia telah menganiayaku, siapa menganiayaku berarti ia telah menganiaya Allah. Allah pasti akan mengadzabnya.” [Tirmidzi 3962, dishahihkan Ibnu Hibban dan disebutkan oleh al Haitsami dalam Mawaridu adh Dham’an 2284, Ahmad 4/87].
Tanpa sadar, Airin menitikkan matanya. Betapa Rasulullah SAW digambarkan pada hadis itu senantiasa menjaga persahabatan juga mencintai sahabat-sahabatnya. Dalam hati kecilnya berbisik, “Mampukah aku?”.
Terutama pada Faiz. Sebenarnya, Airin sadar ada perasaan lain terbesit di hatinya. Orang-orang pun selalu mengatakan bahwa dirinya dan Faiz amatlah cocok. Tapi, Airin tak percaya diri. “Aku khawatir tak akan bisa lagi melihat kebaikan dalam dirinya kalau di antara kami ada sesuatu yang berbeda. Biarlah saat ini, aku menjadi sahabat atau temannya saja. Agar aku sekiranya mampu menemaninya meraih mimpi”. Selanjutnya, jika Allah berkenan menjodohkannya, Airin yakin pertemuan itu akan bermuara dengan indah pada waktunya. Kalau pun tidak, Faiz tetaplah sahabat bagi Airin.
Airin masih ingat benar bagaimana ia bisa dekat dengan Faiz. Masa itu, mereka seringkali mengirimi pesan satu sama lain. Kerap kali keduanya bercerita tentang pengalaman pribadi atau mengobrol santai. Tak jarang, Airin selalu kalah bila Faiz mulai mengajak berdebat atau menjahilinya. Kehadiran Faiz, juga membawanya mengenal Dika, Rama, dan Anjar serta teman-teman lainnya. Satu sayap mimpi dari istana impian Faiz telah Airin rasakan detik itu.
Airin sadar, ia tak akan bisa terlalu dekat dengan Faiz. Faiz seperti bola emas yang senantiasa dikelilingi oleh berbagai pendaran cahaya. Akan tetapi, Airin tetap bersyukur, ia masih diberi kesempatan untuk mengikuti kisah hidup Faiz bahkan ketika pemuda itu jatuh kemudian bangkit dari keterpurukannya.
Kisah tersebut bermula ketika pengumuman kenaikan kelas di akhir semester II kelas X. Semua siswa termasuk Airin merasakan harap-harap cemas. Bisakah mereka melanjutkan ke jenjang selanjutnya atau kah tidak. Di sanalah, Airin melihat Faiz begitu nelangsa. Di kelas sebelumnya, Faiz memang mendapat peringkat 3 besar. Namun, entah mengapa, peringkatnya turun secara drastis. Baru kali itu, Airin melihat raut wajah Faiz yang kecewa. Tetapi, Airin tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, di saat yang bersamaan pula, Airin, Faiz, dan lainnya mesti mempersiapkan berbagai lomba termasuk penelitian LPIR.
Airin tahu pasti kekecewaan yang dirasakan Faiz sangat berat. Oleh karena itu, sebisa mungkin Airin kerap membantu Faiz bila pemuda itu sedang kesusahan. Syukurlah, secercap nikmat terangkai untuk Faiz. Ya, timnya terpilih sebagai finalis LPIR dan dirinya ditunjuk untuk mewakili sekolah menjalani tahap akhir di Jakarta ketika itu.
Lagi-lagi, Faiz selalu dikitari teman-temannya. Airin tentu saja ada di sana, meski hanya mampu mendukung dari sorot yang jauh, tak terperhatikan. Selanjutnya, Airin akan menyempatkan waktu untuk menelepon Faiz meski bukan dirinya yang berbicara melainkan Saskia atau sekadar mengiriminya pesan penyemangat.
Airin tak menduga, Faiz membelikannya sebuah buku seusai kepulangannya dari Jakarta. Itu sayap mimpi kedua milik Faiz, menyadarkan bahwa Faiz tetap menganggap dirinya sebagai teman walau tak seakrab dulu lagi. Sayap mimpi ketiga Faiz yang Airin temukan adalah binar mata Faiz yang kembali cerah dan menampakkan sorot kecerdasan serta motivasi yang begitu kuat.  “Syukurlah, ia bisa kembali dari keterpurukannya,” bisik Airin dalam hati.
Sesekali, Faiz akan mengajaknya belajar bersama atau melakukan kegiatan lain yang sebenarnya bisa Faiz lakukan bukan dengan dirinya. Pernah suatu ketika, Saskia memaksa Airin untuk menemani dirinya dan Faiz pergi ke warnet. Airin kontan bingung. Ia hanya mengambil sikap diam dan menuruti saja.
Dalam kurun waktu yang relatif cepat, prestasi Faiz kembali menanjak kian tahun ke tahun. Faiz telah menorehkan berbagai bentuk kekaguman kepada sekitarnya atas prestasi yang telah ia capai. Airin kagum, ia salut dengan kegigihan Faiz melawan keterpurukannya. Faiz mulai lagi mengokohkan istana impiannya dengan sayap-sayap mimpi yang lebih kuat dan cemerlang.
Sayangnya, tak seperti itu yang dialami Airin. Pertentangan dirinya dengan orang tuanya, tanggung jawab yang begitu banyak baik tuntutan belajar ataupun organisasi yang digelutinya sungguh membuat gadis mungil itu putus asa. Belum lagi, sikap cuek yang tiba-tiba dilihatnya pada Faiz. Airin benar-benar kalut. Semestinya, ia tak perlu merasakan hal itu. Tapi, sikap Faiz yang dingin membuat Airin jengah. Airin tak bermaksud menganggu konsentrasi pemuda itu dalam belajar. Airin hanya rindu. Rindu pada sahabat lelakinya yang dahulu selalu memiliki waktu untuk berbagi cerita dengan dirinya. Airin cuma butuh kehadiran sahabatnya itu ketika ia sedang dirundung masalah. Tapi, Airin menyerah. Sedikit demi sedikit, ia membunuh harapannya yang besar pada Faiz.
Tetapi, Airin tetaplah Airin. Walaupun keinginannya tak tercapai, ia masih saja memperhatikan Faiz seperti biasa. Untung saja, ketika Faiz tak hadir dalam konflik Airin, Allah mengutus sahabat pelangi lainnya untuk mendampingi gadis itu.
Detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari, Airin tertatih-tatih memulihkan kehidupannya tanpa ada Faiz, Airin libatkan. Allah memang Maha Pendengar, Faiz mulai hadir lagi dalam hidup Airin.
Peristiwa tersebut dialami Airin kala dirinya tengah berselisih paham dengan Saskia ketika acara LKO berlangsung. Hanya hal sepele, tapi bagi Airin yang mengerjakan tugas tersebut hampir sendirian spontan membuat pikirannya kacau. Pada akhirnya, ketika Airin berbicara dengan Faiz, pikiran Airin mulai tenang. Faiz juga mulai menyapanya lagi. Adapula, saat Airin jatuh sakit. Dua kali Faiz datang mengunjunginya di rumah sakit. Airin sama sekali tak menyangka Faiz akan melakukan hal tersebut padanya. Padahal ia hanya meminta abang angkat sekaligus sahabatnya, Anjar dengan tersirat dapat membawa Faiz menemui dirinya sekali saja. Tak lebih.
Momen yang paling dikenang Airin adalah kala keduanya tengah berbicara tentang masa depan dan impian saat senja mulai terpancar di ufuk barat. “Kau ingin jadi apa?” tanya Faiz pada Airin.
“Aku ingin menjadi penulis”.
“Pasti bisa. Semangat. Jangan pantang menyerah”.
Pembicaraan itulah yang menjadi titik awal Airin mulai merenda impian yang sempat terlupa. Sayap mimpi keempat yang diberikan Faiz kepada dirinya tanpa sadar. Sayap yang menghembuskannya untuk terbang setinggi mungkin menggapai cita walau jalan yang terbentang tak semulus pada kenyataannya. Dan pada Faiz lah, Airin hanya mengungkapnya, tidak pada sahabat pelangi lainnya.
“Ilham, apakah kau ingat pada sahabat usang mu ini di kala sibuk mu?”.
Tiara gundah. Entah mengapa hatinya merasa rindu pada sahabat lelakinya yang satu itu. Putus asa, ia mencoba melayangkan lagi pikirannya kembali menuju alam impian indahnya dahulu.
Saat itu, dirinya, Ilham, Ali dan Taufan pergi bersama-sama ke toko buku. Ia takjub betapa beraninya ia hanya seorang diri berada di sekeliling mereka. Tapi, Tiara yakin, mereka pasti menjaga dirinya dengan baik.
Bukan Tiara namanya jika tak berlama-lama berkutat pada lautan buku. Sedangkan Ali dan Taufan telah memperlihatkan gelagat hendak pergi. Tiara pikir Ilham pasti akan pulang juga. Oleh karenanya, ketika sahabatnya pamit. Ia berkata,”Ya, hati-hati. Mungkin sebentar lagi aku akan pulang. Sebaiknya aku di sini saja selagi menunggu jemputan. Aku tidak apa-apa sendirian di sini”. Ali dan Taufan tersenyum padanya. Kini, tinggal Tiara dan Ilham yang berada di sana. “Aku masih ingin lihat-lihat”, kata Ilham pada Tiara. Tiara mengangguk.
“Kamu tak pulang. Sudah adzan maghrib. Nanti ketinggalan shalat,” kata Tiara pada Ilham ketika keduanya tengah menunggu Tiara dijemput sang ayah. “Tenang saja, jangan khawatir”, jawab Ilham. Tiara menggelengkan kepalanya. Ia tak sanggup lagi memaksa pemuda itu untuk pulang. Pada akhirnya, Ilham baru mau beranjak setelah pemuda itu memastikan kalau Tiara telah dijemput.
“Terima kasih ya Ilham, kamu mau menemani ku sampai aku pulang. Padahal, semestinya tak perlu kamu lakukan itu”, bisik Tiara dalam hati. Dalam perjalanan, Tiara menyempatkan untuk berterima kasih sekaligus memastikan Ilham pulang dengan selamat. Dari perlakuan Ilham masa itu, Tiara makin yakin bahwa pemuda itu benar-benar tulus melindunginya meski sikap dan tutur katanya tak berjalan beriringan. Tiara tersenyum, Ilham memang pemuda yang baik.
Cukup! Tiara menyudahi kenangan nostalgianya. Hujan pun telah berhenti. Tiara bangkit dan segera menyapa langit cerah di pekarangan rumah. Nampak pelangi bertaut dengan sejuknya aroma dedaunan seusai hujan.
Hatinya mendamai. Tiara bergumam,”Aku percaya seusai hujan hadir pelangi di langit ku. Aku cukup merasakan saja kehadirannya. Bukan kah telah ku titipkan seutas mimpi dalam kepakan sayap istana impian mereka, Ilham, dan kawan-kawan. Biarlah untuk saat ini, ku persiapkan bekal yang mapan lalu aku akan mengejar mereka. Dan bila pertemuan itu telah tiba, aku akan mampu merangkul mereka dengan bahagia”.
Rona mega jingga telah berganti dengan rembulan malam dan ribuan bintang. Airin hempaskan tubuh mungilnya ke dalam pelukan hangat sofa tebal di ruang tamu. Urat lelah nampak menghiasi wajahnya. Namun, tak mampu menutupi kebahagiaan yang ia rasa saat menyadari ia mampu menyelesaikan tulisannya sampai akhir. “Kisah yang penuh harap” gumam Airin dalam hati.
“Terima kasih, Faiz. Aku bersyukur telah bertemu dengan mu. Walau tak mampu mengenal mu dengan dekat. Kau telah mengajarkan banyak hal kepada ku, tentang aku, tentang orang lain, tentang kehidupan, cita-cita, dan juga diri-Nya, Allah SWT. Padamu, aku kian berani bangkit menggapai istana impian ku saat ini hingga mendatang. Terima kasih telah hadir di hidup ku”, isaknya haru.
Sebagai penutup cerpennya, Airin sengaja membubuhkan syair dari Jalaludin Rumi.
“…….Berterima kasihlah kepada siapa pun yang datang….karena setiap tamu yang dikirimkan dari atas sana sebagai pemandu mu”.
Sekali lagi, Airin menampakkan senyuman kepuasannya setelah memastikan cerpen yang ia buat telah selesai. Secepatnya, ia akan kirimkan cerpen ini kepada panitia lomba. Sayangnya, matanya tak lagi dapat menahan kantuk yang begitu berat. Sebaiknya, ia tunda esok pagi saja. Segalanya, ia rapikan lalu beranjak bangkit menuju kamar mandi untuk berwudhu. Airin teringat bahwa dirinya belum menunaikan shalat isya.
Diliriknya sebuah tas mungil berisi sepasang mukena yang Faiz berikan pada Airin saat pemuda itu kembali dari rantauannya. “Faiz, semoga kita dapat bertemu kembali”. Seusai shalat, Airin terlelap indah dalam pembaringannya. Kini, gadis mungil itu mulai menyongsong kejayaan istana impiannya yang berawal dari sayap mimpi seorang Faiz.


Senin, 28 November 2011

Pena Cinta di Muharram Ifa



09 Dzulhijjah 1432 H
Allahu Akbar….Allahu Akbar…..
Terdengar suara adzan ashar berkumandang menyisipi sela-sela kesibukan seorang gadis mungil di tengah perjuangannya merapikan slide-slide mata kuliah yang berantakan. ”Ifaaaaaaaaaaaaaaa…….cepetan, keburu shalat ashar. Nanti kita ketinggalan shalat jamaah nie,” teriak gadis sebayanya.
“ Iya, sedikit lagi. Nanda duluan saja ke sana. Ifa akan menyusul,” jawab Ifa, si gadis mungil tadi.
“Yo wes, assalamualaikum,” balas Nanda sambil berlalu.
“ Waalaikumsalam,” kata Ifa singkat.
Kini ia berusaha mempercepat pekerjaannya. Ia tak mau ketinggalan shalat berjamaah. “Bukankah pahala berjamaah 27 x dari shalat munfarid ?”, gumamnya dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Ifa pun menyusul rekannya di mushola. Untunglah, ia masih bisa mengikuti shalat ashar berjamaah. Suasana seketika berubah menjadi tenang dan syahdu kala imam memulai shalat. Sang imam nampak begitu menghayati lakonnya dalam membimbing para ma’mum shalat berjamaah sore itu. Tak mau kalah, para ma’mum pun berusaha khusyuk saat menjalankannya. Dua kombinasi yang saling berkesinambungan demi satu tujuan yakni bertemu Allah SWT, cinta abadi mereka.
Saat itu, senja mulai memancarkan sinar mega jingganya di ufuk barat. Mempermainkan jemarinya pada awan-awan yang bergerak tak menentu, menggoreskan pesona indahnya sebagai lambang kebesaran Sang Khalik pada bumi, ciptaan-Nya. Bagi Ifa, Nanda, dan lainnya, shalat ashar menjadi penutup hari yang luar biasa nikmat setelah penat saat beraktivitas.

11 Dzulhijjah 1432 H   
“Nah, kawan-kawan. Apakah ada ide untuk mengisi acara berkenaan dengan Tahun Baru Islam ? Silahkan acungkan tangan dan kemukakan ide kalian secara singkat dan jelas,” kata Ifa, sang moderator.
“Assalamualaikum….”, kata seseorang memotong pembicaraan.
“Waalaikumsalam” sahut peserta rapat yang hadir di sana.
“Saya Riechan, saya punya usul, bagaimana kalau kita mengadakan estafet Muharram. Dalam estafet ini, kita buat beberapa kegiatan dengan menggunakan sistem pos. Pos 1 misalnya saja mendengarkan sejarah Muharram, lalu secara singkat menulis ulasan dari apa yang didengarkan, begitu seterusnya,” lanjut peserta tersebut.
Dalam ruangan yang kecil itu, gema suara riuh rapat mengusik ketenangan di sekitarnya. Namun, tak mereka gubris. Sepertinya rapat yang tengah berlangsung begitu penting dan memerlukan perhatian yang sangat intensif, terlihat dari raut wajah mereka yang serius.
“Alhamdulillah, terima kasih buat kawan-kawan semua. Keputusan sudah bulat, panitia Muharram 1433 H akan mengadakan estafet Muharram, di mana isi dari estafet tersebut antara lain membuat ulasan sejarah Muharram sekitar 5 menit, bercerita tentang pengalaman saat tahun baru Islam sekitar 2 menit, puitisasi sekitar 3 menit, nasyid sekitar 3 menit, terakhir menulis quote tentang Muharram sekitar 2 menit. Selain itu, akan diadakan talk show, bazaar, donor darah, jalan santai, dan beberapa jenis kegiatan olahraga lainnya. Sekian. Assalamualaikum,” Ifa mengakhiri rapat dengan lega.
Peserta rapat pun langsung membubarkan diri, melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda. Beberapa di antaranya masih terlibat diskusi kecil, sedang yang lainnya membereskan kekacauan yang ditimbulkan saat rapat tadi. Ini hanya permulaan, selanjutnya Ifa dan kawan-kawan akan menghadapi tantangan dalam perjalanan mereka nanti.

13 Dzulhijjah 1432 H
Teriknya panas di siang hari sangat menyengat. Setidaknya, itu yang dipikirkan Ifa. Belum lagi, otaknya yang kian memanas sebab sedari tadi ia terus memikirkan skema acara perayaan Muharram nanti, membuat dirinya gerah tak karuan. “Huffh…mungkin segelas es teh bisa menyegarkan,” pikirnya dalam hati.
“Nanda, temanin Ifa ke kantin yok. Ifa mau minum es teh,” kata Ifa pada Nanda yang duduk tak jauh dari posisinya.
“Oke, Nanda juga haus. Ifa yang traktir ya,” sahut Nanda sambil cengar-cengir.
Walhasil, mereka berdua pun segera melesat pergi menuju kantin. Namun, di tengah perjalanan, tak sengaja, Ifa menubruk seseorang akibat dirinya tak konsen saat berjalan.
Braaak…braak…bruuk..buku-buku berjatuhan di lantai seusai insiden tubrukan tadi. Ifa kaget bukan main. Refleks, Ifa berusaha menyusun buku-buku tersebut dalam genggaman tangan mungilnya, beradu cepat dengan orang yang ditubruknya. Nanda terbengong-bengong melihat tingkah kedua orang tersebut. Keduanya sama sekali tak melihat satu sama lain, hanya fokus mengumpulkan serakan buku-buku itu. Barulah saat Ifa hendak mengembalikan buku tersebut kepada si empunya, keduanya berdiri dan menatap satu sama lain. Entahlah, tiba-tiba Ifa merasa ada yang berdesir di hati. Cepat-cepat, Ifa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ifa tak ingin ada yang salah pengertian karena kejadian itu.
“Maafkan saya, ini buku-bukunya,” kata Ifa sambil menatap sebentar lalu menunduk lagi.
“ Oh ya, terima kasih. Saya permisi. Assalamualaikum” kata si empunya.
“Waalaikumsalam,” sahut Ifa dan Nanda.
Bila Ifa tak berani menatap wajah orang yang ditubruknya, Nanda masih sempat saja melirik orang tersebut tersenyum hingga sosoknya lenyap disembunyikan tembok-tembok besar kampus. Nanda pun kembali terbengong-bengong.
“Nanda….Nanda…ayo…..jangan bengong. Orangnya sudah tak ada. Ingat, mata juga sumber zina,” teriak Ifa yang tak henti menggoyangkan badan Nanda supaya cepat sadar.
Samar-samar mendengar kata zina, Nanda segera berucap istighfar sembari menoleh pada kawannya. “Maaf Ifa, kelepasan. Ternyata orang yang Ifa tabrak itu tampan juga,” balas Nanda centil.
Mendengar hal itu, Ifa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja. Tak ia perdulikan lagi perkataan Nanda, lebih baik ia segera pergi ke kantin. Akibat insiden tadi, rasa hausnya makin bertambah.
Namun, biar rasa haus itu telah terganti dengan segelas es teh. Ada rasa lain yang baru muncul dalam buku-buku hatinya. Mungkin, saat ini tak ia sadari. Akan tetapi, rasa yang tak disadarinya itu akan bergejolak pada suatu hari nanti.

15 Dzulhijjah 1432 H
Mendekati perayaan Tahun Baru Islam 1433 H, Ifa, Nanda, dan panitia lainnya tengah sibuk mengurusi keperluan nanti. Kesekretariatan LDK, tempat bernaungnya mereka dalam pengembangan keagamaan menjadi ramai dikunjungi. Kebetulan, mereka sengaja berkolaborasi dengan rekan-rekan di luar keanggotaan LDK sehingga kemungkinan besar, mereka akan bertemu orang-orang baru yang berkompeten sesuai keahlian yang dibutuhkan oleh panitia itu sendiri.
Siang ini, mereka akan mengadakan rapat besar. Rasa deg-degan sempat menyelimuti Ifa, ia khawatir dirinya belum siap sehingga tak bisa tampil dengan baik dalam mempresentasikan rencana kegiatan tersebut karena tiba-tiba saja ia ditunjuk oleh ketua LDK tanpa persiapan sama sekali.
“Assalamualaikum, para peserta rapat Muharram 1433 H. Alhamdulillah, pada hari ini, kita masih diberikan kesempatan bertemu untuk membahas persiapan peringatan Muharram 1433 H mendatang. Langsung saja, untuk mengefisiensikan waktu, Ifa selaku sekretaris akan mempresentasikan rencana kegiatan ini pada teman-teman semua. Harap didengarkan. Wassalamualaikum,” kata ketua LDK, Irwan Sahriri.
“Assalamualaikum. Alhamdulillah, penyelenggaraan perayaan Muharram tahun ini dapat kita laksanakan kembali. Dalam kesempatan ini, saya akan mempresentasikan rencana kegiatan kepada kawan-kawan semua. Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih pula kepada rekan dari luar keanggotaan LDK bisa meluangkan waktu untuk hadir dalam rapat besar kali ini. Selanjutnya……bla…bla…bla….,” kata Ifa menjelaskan dengan panjang lebar.
Terkadang saat berbicara, Ifa berhenti sebentar,  berusaha melihat mimik para peserta rapat, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru untuk mengetahui apakah mereka mengerti maksud dari penjelasannya. Tak khayal, saat memandang itu, matanya sempat menangkap sosok yang tak asing di benaknya. Lagi-lagi, ketika menatap sosok tersebut, dadanya berdesir kian menguat. Tak mau hal tersebut menganggu konsentrasinya, Ifa segera melanjutkan perkataannya tadi.
 Rapat besar pun akhirnya selesai. Semua pihak baik panitia maupun di luar keanggotaan panitia setuju mengenai rencana kegiatan tersebut. Kini, mereka harus bekerja lebih keras bila ingin kegiatan tersebut tercapai dengan hasil yang luar biasa.

20 Dzulhijjah 1432 H
Ifa tak menyangka bila ia mesti bertemu kembali dengan sosok yang pernah ia tubruk beberapa pekan lalu. Jika ia saat itu menolak untuk menatap, hal itu tak bisa ia lakukan lagi karena sosok tersebut benar-benar tepat di hadapannya. Dalam keadaan mendesak seperti ini, mau tidak mau, intensitas pertemuan di antara keduanya akan sering terjadi. Memang tak hanya dirinya saja, ada Nanda dan dua orang lagi dalam timnya. Namun, entah mengapa, Ifa merasa gugup bila berhadapan dengan orang tersebut.
Namanya Imam Dwi Rizky, pencinta saintis, kritis, inovatif, mudah bergaul dan hobi meneliti apa saja. Postur tubuh yang jangkung, berkacamata, dan nampak religius juga pendiam. Itulah yang dikatakan Nanda padanya. Ifa hanya manggut-manggut, tak berkomentar. Nanda yang menyadari reaksi yang tak sesuai harapan, merasa gemas lalu mencubit temannya.
“Aww…sakit mba. Kenapa Ifa dicubit toh?,” erang Ifa menahan sakit.
“Habis, reaksi Ifa tak seru banget. Standar,” sungut Nanda.
“Aduh, teman Ifa yang cantik. Biar dikata seribu pesona tentang dirinya tak ada pengaruhnya sama sekali buat Ifa saat ini. Ifa mau fokus ke kegiatan Muharram dulu. Ka Irwan benar-benar membuat Ifa sibuk. Ifa kan tak hanya satu tim dengan Nanda melainkan Ifa juga panitia inti,” bela Ifa sambil menatap temannya itu.
Nanda yang semula gemas jadi tersenyum sendiri lalu tertawa. “Baiklah, Nanda minta maaf. Ifa lanjutin saja kerjaannya. Nanda mau cari angin segar,” pamit Nanda pada Ifa.
Tak lama kemudian, setelah Nanda pergi, datang sosok yang dibicarakan mereka berdua. “Assalamualaikum Ifa,” kata sosok tersebut yang tak lain adalah Imam Dwi Rizky.
“Waalaikumsalam,” ucap Ifa terkaget-kaget.
“Kaget ya. Maaf. Ini ada beberapa file penting terkait acara nanti. Kuisioner, daftar peserta lomba, dan lainnya sudah ada dalam rekapan file ini,” kata Imam padanya.
“Oh iya, terima kasih. Maaf ngerepotin ya akhi Imam,” balas Ifa.
“Tak usah formal gitu. Panggil saja Imam. Ada yang bisa saya bantu? Sepertinya Ifa lagi kesulitan,” tawar Imam pada Ifa.
“Ada beberapa yang agak membingungkan tapi Ifa lagi berusaha menyelesaikannya,” kata Ifa.
“Coba saya lihat apa permasalahannya. Oh begini toh. Bagaimana kalau….bla…bla…bla…,” kata Imam menjelaskan pada Ifa.
Hari itu, gejolak rasa dalam hati Ifa makin menguat. Obrolan yang cukup lama di antara keduanya begitu membekas. Tak ada yang menarik sebenarnya dari pembicaraan mereka, hanya sebatas pemecahan masalah. Lagipula, ia bukanlah orang yang mudah bersosialisasi. Namun, pada Imam, Ifa merasakan keramahan saat berinteraksi. Mungkinkah rasa suka itu hadir…..entahlah, hanya Ifa yang mampu menerkanya.

22 Dzulhijjah 1432 H
Semakin sering bertemu, semakin besar tunas bunga bersemi di hati Ifa. Berawal dari insiden tubrukan itu, perasaan Ifa campur aduk bila berhadapan dengan Imam. Ingin rasanya, Ifa mengendalikan sensasi yang indah itu dalam dirinya. Namun, sayang, Ifa merasa tak kuasa untuk menetralisir gejolak tersebut, justru ia merasa terbuai dengan hadirnya rasa itu dalam kehidupannya. Belum lagi, hari-harinya terus-menerus dijemukan dengan berbagai urusan yang menjadi tanggung jawabnya. Hari-hari Ifa benar-benar bergemuruh di saat persiapan perayaan Muharram tengah terlaksana.
Namun, di lain hal, Ifa dan Imam nampaknya mulai akrab. Terlihat dari seringnya mereka berdiskusi ataupun mengobrol baik mengenai rencana kegiatan Muharram ataupun hal yang sepele. Jikalau seperti itu, mustahil tunas-tunas cinta tiada tumbuh di antara mereka berdua. Bukankah kebersamaan yang terjalin membuahkan sebuah kasih sayang yang menyelimuti lingkaran hidup mereka ? Tapi, mestikah sekarang ?

23 Dzulhijjah 1432 H
“Gawat Ifa, ada problem di kesekretariatan. Ayo kita ke sana,” seru Riechan yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
          Hati Ifa merasa was-was. Ia segera berlari menuju kesekretariatan. Aaaakh…mengapa harus sekarang masalah ini terjadi. Padahal, acara Muharram tinggal menunggu hari. Tiba di kesekretariatan, nampak orang-orang bergerombol menutupi pintu ruangan. Mau tak mau, Ifa harus menerjang arus tersebut agar bisa masuk.
          Saat berada di ruangan, Ifa tercengang bukan main. Keadaan ruangan begitu berantakan seperti habis diobrak-abrik. Ifa syok. Matanya kini mencari-cari sumber info yang terdekat. Saat Ifa baru melangkah, Irwan menegurnya.
          “Oh, Ifa sudah tiba ya. Sepertinya kita dapat masalah. Terkait dengan insiden ini, pengurus inti hendak mengadakan rapat dadakan. Informasikan ke teman-teman lainnya. Bada zuhur, kita sudah berkumpul ya”.
          Selidik punya selidik, insiden yang terjadi di kesekretariatan itu ternyata ulah sekelompok minoritas yang tak setuju dengan salah satu kegiatan mereka. Kemungkinan besar, mereka dikonfrontasi oleh orang lain. Belum selesai permasalahan tersebut mereda, isu lainnya merebak. Kini, pihak talkshow ingin memisahkan diri dari lingkup kepanitiaan Muharram. Ifa merasa remuk redam menghadapi dilema tersebut. Ia tak tahu harus berbuat apa.

25 Dzulhijjah 1432 H
          Akhir-akhir ini, Ifa mulai jarang berkomunikasi dengan Imam maupun Nanda. Pikirannya kini tengah konsen pada pemecahan masalah yang belum mencapai titik temu. Masalah yang timbul mendekati acara membuat dirinya tiada terlalu memperhatikan lagi kedua orang tersebut. Terakhir, Ifa melihat mereka berdua hanya saat insiden itu menggelegar. Itu pun keduanya hanya nampak dalam rentang jarak yang jauh, tak mendekat ke tempat kejadian. Hal ini membuat Ifa menjadi uring-uringan.
          “Ada apa ?” tanya seseorang padanya.
          “Oh, mba Lala. Kapan tiba di sini ? Tak apa kok mba. Ifa cuma lagi suntuk saja,” balas Ifa saat mengetahui kedatangan Lala, mantan aktivis LDK di kampusnya.
          “Baru saja. Mba mau ngurus administrasi supaya bisa lanjut ke universitas lain. Suntuk kenapa toh, Fa ?” tanyanya pada Ifa, adik tingkat semasa ia kuliah dulu.
          “Iya mba. Kami tak mengira masalah bakal datang di saat acara kegiatan tinggal beberapa hari lagi. Perkaranya belum mencapai titik temu. Ka Irwan juga sepertinya berusaha berbicara baik-baik dengan pihak yang kontra tapi juga tak ada hasil. Kami mesti bagaimana ya mba ?” curhat Ifa pada Lala.
          Lala hanya tersenyum, lalu dengan lembut ia berkata,” Ifa, sudah minta petunjuk sama Allah SWT ? Sudah berbicara dari hati ke hati dengan mereka. Mendekatlah lalu pahamilah mereka dengan kasih sayang. Ifa, sesungguhnya di balik kesulitan pasti ada kemudahan….,” jelas Lala.
          Ifa mendesah lalu berkata,” Insyaallah mba”.
          “Ya sudah. Mba pulang dulu ya. Assalamualaikum,” pamit Lala pada Ifa.
          Sepeninggal Lala, Ifa memutuskan untuk mengikuti sarannya. Namun, langkahnya terhenti di kala Ifa memergoki Nanda dan Imam sedang asyik mengobrol di pelataran taman kampus. Tubuhnya menegang, ia segera berbalik menuju tempat asalnya tadi. Ia bimbang.

27 Dzulhijjah 1432 H
          Pikiran Ifa benar-benar kacau. Ifa butuh ketenangan namun deadline acara tak membiarkan dirinya untuk berhenti sejenak. Ifa merasa jengah namun ia juga tak mampu terlepas dari belenggu itu.
          Meski begitu, Ifa tetap berusaha melakukan saran dari Lala. Oleh karenanya, ia mencoba utarakan hal ini pada Irwan dan beberapa rekan yang dapat ia percaya. Selanjutnya, ia pasrahkan keputusan di tangan kawan-kawannya apakah menerima saran itu atau tidak.
          Semestinya, hatinya merasakan kelegaan namun sedikitpun tiada tertoreh dalam batinnya. Di saat tertekan seperti itu, Ifa biasanya memainkan jari jemari mungilnya dengan lembut di selembar kertas putih. Ya, Ifa suka menulis. Menulis membuatnya mampu menguraikan apa yang tak mampu ia kemukakan. Menulis ialah surat hatinya yang terpendam.
          Cukup lama, Ifa berada sendirian di ruang kesekretariatan. Ia memang sengaja meminta izin pada Irwan untuk tetap berada di sana sebelum ia melakukan pendekatan terhadap pihak yang kontra dengan panitia penyelenggara kegiatan. Semoga saja, ia berhasil meluluhkan hati mereka semua, harap Ifa.
          Akibat terlalu lama di ruangan, rasa lapar menyergap dirinya. Ia putuskan untuk mencari sedikit makanan sebagai penyangga perutnya yang kosong. Maka, ia tinggalkan ruangan tersebut lalu beralih ke koperasi dekat ruangan yang ia tempati. Ifa hanya menutup pintu ruangan sedikit. Pikirnya, ia hanya pergi sebentar. Tak kan ada yang berani macam-macam di sana. Toh, ia sudah menuliskan kata-kata “JANGAN MASUK. PENGURUS SEDANG REHAT”.
          Sesampainya Ifa di ruangan, ia malah menemukan tulisan tangannya hilang seketika. Ifa meradang lalu menangis. Nisa yang saat itu hendak masuk ke ruangan kaget melihat kawannya terisak-isak.

28 Dzulhijjah 1432 H
          “Tak salah lagi pasti Nanda,” simpulnya dalam hati. Sebab yang masuk ke ruangan saat ia keluar adalah Nanda. Ia tahu itu dari Nisa. Ifa nampak kesal pada sahabatnya. Di lain hal, Nanda yang mengetahui kejadian itu segera menyusul menemui Ifa. Sayang beribu sayang, Ifa tak juga mau berbicara dengannya.
          Di saat-saat seperti ini, Ifa teringat perkataan Lala. Sekuat tenaga, Ifa berusaha menjernihkan pikirannya. Ia berjalan sendirian mengitari tempat-tempat di sepanjang area kampus hingga akhirnya terhenti di koperasi. Tak sengaja, matanya menangkap seberkas lembaran kertas putih. Ia mendekat dan ia temukan kertas yang hilang itu. Spontan, ia menangis lalu berlari menuju musholla.
          Di dalam musholla, Ifa tumpahkan semua kegundahan hatinya dalam sholat. “Astaghfirullah, ya Allah. Ampuni hamba-Mu ini yang telah mendzalimi saudaranya sendiri. Bagaimana mungkin hamba bisa menyalahkan Nanda padahal kesalahan itu akibat diri ku,” isak Ifa pada Allah saat berdoa.
          Sesuai sholat, Ifa dihadang oleh Imam di beranda musholla. Imam mengajaknya berbicara tentang permasalahan yang sedang terjadi antara dirinya dan Nanda. Imam berusaha menjelaskan duduk perkaranya. Ifa mendengarkan dan menerima pendapat Imam. “Jangan biarkan diri mu ditutupi dengan keegoisan hati bila kamu tak ingin kehilangan orang yang kamu sayangi,” kata Imam menutup pembicaraan tersebut.
          Setelah itu, Ifa berencana ingin menemui Nanda. Baru beberapa langkah berjalan, Nanda tiba-tiba berlari memeluknya sambil berurai air mata. “Maafkan Nanda, Ifa,” kata Nanda sesegukan. Imam yang berada di sana, perlahan-lahan menjauhkan dirinya dari kedua sahabat tersebut, membiarkan mereka berdua saling berbicara.

01 Muharram 1433 H
          Alhamdulillah, acara menyambut Tahun Baru Islam dapat terlaksana dengan baik. Pendekatan yang ia lakukan pekan lalu mampu meluluhkan hati pihak yang bermasalah dan berhasil memboyong mereka kembali untuk bekerja sama. Tak hanya itu, permasalahan dengan Nanda juga telah selesai. Ifa merasa bersyukur akan hal itu.
          Saat Ifa sedang asyik menikmati kegiatan Muharram yang tengah berlangsung di halaman kampus, Nanda menghampirinya lalu tersenyum sembari menyematkan sepucuk surat di tangannya. “ Dibaca ya,” kata Nanda sambil berlalu.
          Assalamualaikum. Aku bukanlah si pandai yang bisa membuat kata-kata yang santun juga baik. Namun, biarkan ku utarakan sesuatu hal kepada mu. Sesungguhnya, aku tertarik kepada mu, pada kepribadian mu, pada tingkah polah mu, sikap mu dan lainnya. Memang, akhir-akhir ini, aku begitu dekat dengan sahabat mu. Sungguh, tak ada sesuatu hal yang terjadi di antara kami. Kami hanya berdiskusi mengenai tugas kami. Selebihnya, ia terus membicarakanmu. Maaf, aku telah lancang menuliskan ini kepada mu. Tapi dari sahabat mu, aku tahu bahwa dirimu juga menyukai ku. Ifa, aku tak ingin merusak citra mu yang suci itu. Cukuplah Allah saja yang menghembuskan nikmat-Nya untuk menyatukan kita bila kita berjodoh. Kita sama-sama belajar menjaga diri saja untuk saat ini. Terima kasih untuk kerelaan hati mu untuk mengenal ku. Wassalam.
Salam hangat, Imam
          Air mata menetes sedikit demi sedikit saat Ifa membaca surat tersebut. Saat itulah, ia menyadari penyebab kegelisahan hatinya yang tak kunjung menghilang. Inilah jawabannya. “Ya Allah, syukur ku pada-Mu, hingga sampai saat ini masih Kau gulirkan beribu-ribu cinta dari ciptaan-Mu hingga aku mampu temukan jalan terangnya,” isaknya terharu.
          Hatinya kini terasa damai, diselimuti gelombang cinta yang begitu indah. Di Muharram ini, ia semakin memahami keberadaan cinta yang ada di sekitarnya. Cintanya pada saudaranya, pada tugasnya, dan pada yang lainnya membuat dirinya menjelma menjadi pribadi yang lebih tangguh lagi. Lalu, bagaimana dengan perasaannya pada Imam ? Dalam hal itu, Ifa memutuskan untuk membiarkan waktu saja yang menjawabnya. Di masa penantian itu, ia terus mencoba merayu Allah agar berkenan menyatukan dirinya dengan Imam. Semoga saja impiannya terwujud. Amin.
“Wahai Allah, izinkan aku kembali bertemu dengan Muharram-Mu lagi di tahun-tahun selanjutnya agar aku bisa menyemaikan benih-benih cinta-Mu seperti saat ini,” urainya dalam hati.

---------------Tamat---------------

Ku lukiskan pena ku dengan gelombang cintanya yang tak menentu
Membuai sang rindu lewat warna pelanginya
Bila masa terjatuh lekaslah bangkit
Sebab kisah cinta tiada kan terhenti sampai di sini

Ku lukiskan pena ku dalam diamnya yang syahdu
Menumbuhkan keramahan hati bertaut cinta dalam goresnya
Kan banyak bunga yang kan bersemi dalam langkah
Maka biarkan jiwa bermain-main di dalamnya