Tampilkan postingan dengan label Curahan Pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan Pena. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2012

Sejumput Pesan di Balikpapan

Ada beberapa kalimat yang menarik yang aku dengar sewaktu mengikuti workshop menulis di balikpapan sabtu lalu. Bila ku bahasakan dengan bahasa ku sendiri...beginilah kalimatnya
" Manusia itu lumrah selalu membuatnya dirinya nampak baik dengan penyangkalan-penyangkalan padahal yang terjadi adalah keadaanya begitu buruk. Itulah sisi negatif manusia. Semestinya manusia itu bersikap jujur. Jika mengatakan malas ya memang malas bukan kalimat tak mood dsb. Hal itulah yg membuat manusia tidak maju dalam pemikirannya"

Kalau ku pikir-pikir...benar juga adanya bahwa selama ini langkah ku terus dihantui oleh penyangkalan yg tak ada ujungnya. Yang seharusnya bisa move on malah stagnan di posisi aman.

Hem...baiklah mulai saat ini belajar jadi orang jujur dan mengatakan apa adanya...
Chayooo!!!!!

Selasa, 27 November 2012

Hidupku Bukanlah Dongeng Semata

Sapaan pagi menerpa wajahku dengan hangat
Memberikan kesejukan akan pesona alam
Semilir angin seperti hendak mengajakku bermain dengannya
Namun, hanya senyuman yang mampu ku berikan padanya
Saat itu ku rasakan damai menyelimutiku

Namun, ku tahu, hidup bukanlah mimpi
Mimpi indah yang ku bangun di dalam asa
Kadang aku bisa merasakan kedamaian
Namun badai tak mengizinkanku untuk merasakannya cukup lama

Aku ingin menjerit, melampiaskan segala penat yang ada
Tak ku pungkiri, hatiku lelah karenanya
Namun hanya kebisuan sebagai jawaban atas semuanya

Kemanakah ku harus berlari agar aku bisa mengerti
Kemanakah ku harus memulai agar aku mampu berdiri lagi
Tanpa ku sadari, tetes demi tetes air berkecamuk di pelupuk mata
seakan meratapi kemalangan yang dialami oleh pemiliknya

Aku tak mengerti
Aku bingung
Apakah ini waktuku untuk tumbuh dewasa

Jikalau ku bisa mengulang waktu
Ku ingin diriku seperi Peter Pan
Menikmati masa kecil penuh bahagia
Tapi satu hal yang ku tahu
Hidupku bukanlah dongeng semata

In the Past

Nah, ini zaman SMP, aku buat puisi agak berlebihan (metafora), harap dimaklumin ya ^_^'

Di dalam hati banyak sekali yang ku pendam
Sedih, suka, duka tak dapat ku bendung
Mereka meluap
Rasanya ingin ku lepas semua itu
Tapi bagaimana
Tahukah kau caranya ?
Beri tahu aku
Aku tidak bisa menahan lagi
Rasa ini hanya semakin menyakiti hatiku
Andai saja ku bisa
Pastilah saat ini diriku mengerti
Apalah artinya hidup ini
Ku coba melawan semua itu
Tapi tetap saja hatiku masih sakit
Aku tak tahu lagi harus bagaimana
Aku ingin bertanya padamu
Bolehkah aku menyayangi seseorang?
Bolehkah aku merasa disayangi?
Aku rasa tidak
Kasih itu hanyalah semu bagiku
Bagaikan pasir yang rapuh saat ku genggam
Ku iri
Teman bahkan adikku sendiri pun pernah merasakannya
Mengapa ku tak bisa?
Apa aku tak pantas menerima semua itu?
Walaupun begitu.....ku takkan menangis
Aku yakin
Suatu saat nanti akan datang seseorang
Seseorang yang akan memberikan kasihnya untukku

Comment dari diriku sendiri
"Sempat kaget, ternyata dulunya aku seperti itu. Banyak hal yang terlupa tentang kenangan di masa lalu. Contohnya dengan puisi ini. Kalau dirasa, mungkin saja saat-saat itu adalah momen terberat yang bisa membuat depresi. Seperti hilang ingatan, kenangan pahit di masa lalu hanya sekeping puzzle yang sedikit ku ketahui saat ini. Mungkin memang itulah inginku bahwasanya kenangan pahit mesti dibuang sehingga aku bisa menata hidupku lebih baik. Yah, life show must go on alias hidup harus terus berjalan. Itu masa lalu. Dan dari sinilah, aku maju!!!"

Perception

I can't believe
That was happened in my life
From to be friend...
Like him, and......
Now, become an enemy in my eyes

I was sad
I don't want to like that
But, what I must to do ?
I can't, I am weak

When You Go From Me

When you go from me
My world is empty
I want to meet you
I want to give you sweet hug
I want to beside you
But .....
It never happen
That's only my mind
And never happen in my life

If we meet one day
I hope you remember me
And I wish you never forget me
Forever

Nb : (Harap maklum bila bahasanya amburadul hehehe, zaman dulu ya beginilah sok-sok buat puisi pake bahasa Inggris)

You and I

Next session.....

Berikut ini salah satu puisi di masa lalu ala bahasa Inggris. Check it out!!!

When I closed my eyes
I felt alone
And you came to me
You say "Hey, wake up !!!"
"You're not alone"
"I'll be here with you"

I open my eyes
I see you
And then I give a hug from you
I cry
Nobody give me that

I believe
I'll have a best friend
Not one but many, many, and many friends
And become the inspiration of my life

Jumat, 16 November 2012

Pelangiku



Pelangiku
Sekian lalu, aku menemukanmu duduk teduh dalam jelaga mataku
Saat itu, tak ada kata, tiada alasan
Hanya kamu, menghiasi indah dalam lukisan langit yang tersembunyi di balik awan
Pelangiku
Tak pernah terpikir dalam benakku
Bahwa pada saat itu juga pancaranmu menetap di hatiku
Lagi dan tiada henti
Kau menenangkanku dengan renyah warnamu sendiri

Pelangiku
Kepadamu, aku merasa bebas menjadi diriku sendiri
Menari, berputar-putar, dan mendendangkan lagu langit yang begitu riang
Karena kau tak pernah menginginkan aku menjadi siapa pun
Hanya aku dengan segala kekurangan dan kekuatanku

Pelangiku
Aku selalu berharap
Tuhan berkenan membuatmu terus berada di dekatku
Lalu, pada suatu saat nanti
Biar aku yang memberimu berjuta kali keindahan yang pernah kau ciptakan untukku

Pelangiku
Semoga Tuhan terus menautkan kita dalam ridho-Nya
Untuk ukirkan tulusnya kasih sayang pada semesta
Detik ini hingga nanti

Sabtu, 10 November 2012

Tentang Seseorang

Halooo....
Masih ingat ga dengan film "Ada Apa dengan Cinta", tokoh utamanya diperankan oleh Dian Sastrowardoyo (Cinta) dan Nicholas Saputra (Rangga). Menurutku, film ini tetap bagus dan mengagumkan walau terbilang film lama. Tapi tetap saja, ada beberapa adegan yang kalau diresapi maknanya daleeeeeeeeeeeeeeeem banget. Nah, salah satunya adalah scene di mana Cinta alias Dian Sastro lagi musikalisasi puisi. Puisi itu berjudul "Tentang Seseorang".....
Yuk kita tengok puisinya....

"Tentang Seseorang"

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci

Aku ingin bingar
Aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?

Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Hem...biar tambah asyik lagi, sekalian simak videonya ya....http://youtu.be/ke8H7UxNVSQ



Behind the story from this poetry....

Sebenarnya aku dengan mereka ataupun kru film "Ada Apa dengan Cinta" sama sekali ga ada chemistry nya sie hehehe...Trus napa ditampilin nie puisi?
Hohoho...jawabannya sie gampang. Film ini kan lagi booming-booming nya pas aku jadi remaja putih biru alias SMP. Dulu itu, masih suka namanya nulis diari, buat puisi, atau sekadar ngumpulin puisi-puisi yang keren dan indah. Nah, salah satunya ya ini puisi. Berasa nostalgia aja kalau ingat ini puisi sama kekonyolan ku di masa lalu. Duh....kanget banget deh bikin puisi lagi....T-T.....
Soalnya udah gede begini, susah bo' luangin waktu buat nulis,,keseringannya sie banyak pikiran jadi pikiran jernih ga masuk-masuk deh. Terus kalau sudah pikiran jernih ga masuk, walhasil puisi bisa ga berarti atau ga selesai....
Moga-moga, dengan bernostalgia lewat kumpulan puisi saat masa lalu bisa ngebangkitkan motivasiku buat menulis lagi.....Amin....
Sampai jumpa....chao....

Rabu, 31 Oktober 2012

Sekolahku

*senyam-senyum sendiri

(basa-basi dulu ya....)

Beberapa hari yang lalu, ceritanya, aku lagi sibuk bongkar lemari buku sekadar cari file kuliah sie soalnya kan aku ini mahasiswi tingkat akhir gitu......hehhehee....Eh, tak tahunya, di detik pencarianku, aku menemukan puisi atau tulisanku waktu SMA. Ternyata, baru aku sadari, aku termasuk lebay juga kalau lagi nulis puisi. Swear, aku malu banget. Tapi, tak apalah, aku cukup senang, setidaknya aku mengakui bahwa aku punya bakat terpendam untuk menulis (hohohoho....pede tinggi, tak apalah ya, banggain diri sendiri itu sesuatu banget ^_^). Huuuufh...daripada nanti ini ceritanya makin ngalor-ngidul, yuk diintip karyaku ini di waktu jadi pasukan putih abu-abu. Check it out !!!

SEKOLAHKU

Sekolahku....
Saat pena kugoreskan dengan tintamu
Jari jemari pun ikut merangkai kata
Menguraikan lembaran peristiwa tentangku
Dalam pencarian akan sebuah makna

Sekolahku....
Kata orang, kau tempat menuntut ilmu
Tapi bagiku, kau lebih dari itu
Kata orang, kau tempat menggapai cita
Tapi bagiku, kau menyempurnakan cita
Kata orang, kau tempat mencari jati diri
Tapi bagiku, kau mengajarkan pengendalian diri
Kata orang, kau tempat bertemu orang-orang hebat
Tapi bagiku, kaulah yang terhebat

Sekolahku...
Jikalau aku tak lagi di sisimu
Aku ingin kau tahu
Bahwa aku bersyukur bertemu denganmu
Aku pun berharap, aku akan dapat meraih citaku
Seperti saat aku ada bersamamu
Jikalau waktu akan berlalu
Untaian terima kasihlah yang akan aku persembahkan kepadamu 

About Life

Hidup bukan keteraturan yang dibuat-buat sehingga nampak sempurna
Hidup hakikatnya ketidakteraturan yang tak sempurna namun dinikmati prosesnya

Hidup bukan tentang bagaimana membuat segalanya aman
Kan tetapi hidup mengajarkan bertahan dari jalan yang tak menenangkan

Bila hidup dirasakan terpuruk
Jangan pernah sekali-kali menyalahkan kehidupan
Mungkin saja itulah hikmah terbaik yang diberikan oleh Tuhan
Namun bila hidup terasa nikmat
Bersyukurlah dari setiap hembus nafas
Untuk hindari nikmat menjadi petaka

Begitulah...
Hidup sekiranya akan indah
Jika selayaknya diindahkan
Hidup pun bisa terasa penat
Selagi dipantaskan dengan kejenuhan

Sekali lagi....
Hidup memanglah misteri...
Tak ada yang tahu bagaimana jejaknya dalam pijakan bumi
Sekalipun insan yang memiliki derajat yang tertinggi
Sebab ia penuh kealpaan, penuh keterbatasan
Terkecuali Ia (Tuhan) Sang Maha Hidup

Hidup bukan sistematik yang dapat dikerjakan oleh insan
Karena adanya hidup bukanlah kuasa insan
Melainkan Ia (Tuhan) Sang Penguasa Alam Semesta

Lalu, apa tugas seorang insan ?
Tak lain adalah memaknai hidup dengan sebaik-baiknya pemahaman akan keberadaan Tuhan
Bila ingin hidup berarti
Maka dekatkanlah diri dengan Ia (Tuhan) Sang Maha Pemilik Hidup
Semoga perjalanan hidup yang dilandasi keyakinan kepada Tuhan
Akan memberikan kebaikan yang tiada tara
Amin

Kamis, 04 Oktober 2012

Voice

Aku    : Hey, kau bisa mendengarnya ?
Kamu : Mendengar apa ?
Aku    : Suara-suara itu indah
Kamu : Suara siapa ?
Aku    : Suara kita, kau dan aku. Mereka membumbung di angkasa, tak terpenjara
Kamu : Tetap saja, aku pun masih tak mendengar apa-apa
Aku    : Tutuplah mata dan telingamu. Lalu, dengarkan dengan hatimu. Kau tahu, itulah suara kita yg sebenarnya.                  Jika kau dapat mendengarnya maka hatimu pun akan bebas. Sebebas-bebasnya burung yang tengah menanjaki langit dalam perjalanannya. Selamat menikmati :)

Suara kadangkala terdengar merdu, kadangpula terasa sumbang
Bukan karena salah pendengaran ataupun salah situasi
Bukan jua salah dalam memainkannya
Memang begitulah adanya
Kita tak bisa semaunya meminta suara hanya terdengar merdu saja
Tapi, kita perlu jua mendengar suara sumbang sesekali dalam dentingannya
Ketika, kau mengenal suara sumbang, kau pun pasti tahu betapa suara itu juga bisa indah
Pesanku.....
Bila, kau dilanda jemu dengan suara-suara yang tak jelas nadanya di setiap langkahmu. Maka, hentikan sejenak saja langkahmu lalu cobalah dengarkan dengan hatimu
Tahukah kau ?
Suara yang membumbung di angkasa senyatanya adalah suara hatimu yang sebenarnya
Semoga, setelahnya kau pun akan merasa damai

Rabu, 03 Oktober 2012

Listen to Our Voice

Bisakah kita memperdengarkan suara satu sama lain ?
Meski terpetakan oleh jarak
Meski langit pun meredamkan suara dengan gemuruhnya
Dan meski suara itu hanya terpatri di dalam hati
Apa salahnya ?
Kali saja mampu mendekatkan kita
Sedekat-dekatnya

Ya
Barangkali kita, kau dan aku
Bukan main berpeluh keringat, mengeja keterpisahan juga kebersamaan
Lalu diam kemudian membisu
Padahal kita pernah satu
Mengarak awan hitam menjauhi taman teduh kita
Saat itu, suara kita membumbung di angkasa, tak terpenjara

Bisakah kita memperdengarkan suara satu sama lain ?
Lagi dan seterusnya
Bukan karena apapun
Hanya terbesit yakin dan teguh yang bertahta di dalamnya
Memahamkan keberadaan kita
Bahwa kita tetap bersama, kita saling membutuhkan
Itu saja

Pelangi

Pelangi
Istimewa dan langka
Hanya kan ada pada saat-saat tertentu saja
Pasti kau pun tahu, pelangi bisa muncul saat matahari dan hujan bertautan
Seperti itu jua dirimu
Kau datang di saat gelap dan terangnya langitku
Lalu, dengan dzat-Nya, kau bawa serta aku pada jalan dengan gemerlap keindahan-Nya
Pelangi...oh...pelangi
Semoga engkau tak pernah jemu menjembatani diriku dengan dirimu

Minggu, 16 September 2012

Guruku, Panutanku

Guruku, guru yang amat mulia
Selalu berbesar hati bukan besar kepala dalam mengemban tugasnya
Tak pernah jua berkecil hati meski pendidik hanya topangan hidupnya

Guruku, guru yang dicinta muridnya
Lakunya lembut, tak pernah bertindak kasar
Katanya santun, aduhai nyaman didengar
Kasih sayang tulusnya ada, bukan mengada-ada

Guruku, guru yang bersemangat
Pemikirannya inovatif, selalu saja menemukan cara yang asyik untuk belajar
Agar anak-anak tiada jemu melainkan raih hasil yang membanggakan

Guruku, guru yang sadar diri
Mengerti bagaimana menempatkan diri akan tugas juga kehidupannya
Menyumbangsihkan kinerja sebaik-baiknya bukan seenak-enaknya

Guruku, guru yang terhebat
Tahu kemana kan berlayar, membawa anak-anak mengejar mimpi mereka
Tak lupa jua bersabar, ketika kritik pedas menyergap salah dari dirinya

Begitulah guruku, guru yang takkan habis kenangannya di mataku
Itulah guruku, panutanku

Jumat, 14 September 2012

Hati yang Merindu

Hati yang tulus merindu tiada henti menyeru sebuah nama
Yang kerap berteriak dalam senandung doa di atas tengadah-Nya
Jiwa mereka terpaut
Melirih dan melebur pada alunan nafas yang berhembus

Pabila jatuh, membangkitkan
Pabila tangis, membahagiakan
Pabila jauh, mendekatkan
Dan pabila tawa, menyuarakan

Mereka tiada bertali, tak jua tersimpul
Hanya terajut dalam ingat yang sahaja
Di sudut hati kala menyisir angin
Pada satu asa, kebaikan-Nya

Pilihan Ku

Malu-malu aku menyusuri pertemuan kita hingga tak dapat lagi berkata
Ketahuilah, perlu menangis terlebih dahulu untuk sekadar menatapmu
Lalu menyerah saat harap tak jadi nyata
Namun, aku tak menyesal
Itu pilihanku untuk merindumu, menunggumu, juga melihatmu

Sepi

Bukannya tak sadar
Hari-hari bisa saja diliputi kesendirian
Hanya beralaskan selimut sunyi
Berusaha tapaki hidup ini
Memang, tak selamanya menyenangkan
Tapi, karena tahu apa itu sendiri, apa itu sepi
Perasaan tak bisa biarkan orang di sekitar merasa sendiri ataupun sepi ada di hati
Kesendirian sematanya mengajarkan makna hidup bersama

Mungkin terdengar melankolis
Tapi itulah permata dalam sebuah ikatan yang disebut teman
Setidaknya itu pikirku

Nyala Lilin dan Angin

Seperti nyala lilin yang dipermainkan sang angin
Penuh peluh membasahi tubuh rapuhnya
Terombang-ambing mengikuti irama angin tak beraturan
Lelah
Rasanya ingin redup saja
Pelan-pelan, ia menyatu dengan sensasi panas dari tubuhnya
Lenyap
Irama angin seketika terhenti
Didapatinya nyala lilin telah pergi
Angin memekik
Meraung-raung tak karuan
Sedang nyala lilin menemukan damainya di seberang sana tanpa sang angin yang mengindahkan keberadaannya

Scene of Samarinda

Senja menutupi temaramku dalam peraduan malamnya
Aku tanpa sedetikpun masih saja menatap di sini
Menjajaki potong demi potong kenangan yang silih berganti meracau pikiran tenangku
Di sini, di tempat syahdu yang kumiliki
Aku terduduk pilu sembari adzan menyemai di tepi Mahakam
Sedang lampu megah beradu cahaya dalam pelataran Islamic Centre
Di sini, di sekian kali cerita, panorama Samarinda menggugah asam manis kehidupan yang tak ada habisnya

Senandung Sepi

Hari ini, aku berteman sepi
Hanya angin yang berkenan memberi sejuk padaku
Sembari mengirim senandung ayat-ayat-Nya
Menghembus lembut di telinga ku
Kembali
Damai itu menenangkanku
Meski sesaat, meski berulang-ulang