Minggu, 25 Desember 2011

Aku, Langit, dan Awan


Duhai cahaya yang membiru diterpa lautan
Kan ku katakan suatu hal kepada mu
Aku telah mengejar langit
Tapi tangan ku tak mampu meraihnya
Aku ingin gapai awan
Namun,
Rintik hujan tak biarkan ku sentuhnya
Lalu,
Aku harus bagaimana ?
Apa yang bisa ku lakukan?
Aku merana
Keduanya tiada dalam genggaman ku
Padahal kehadirannya teramat ku rindui
Sungguh, tapak kaki ku mulai goyah
Dirajam emosi yang membara
Juga nafsu yang hilang kendali
Bahkan pena terkuat sekali pun tak mampu menembusnya
Memecah riak-riakan yang teramat menyiksa

Duhai sinar yang mendamai
Ingin rasanya aku menangis
Bersimpuh tergugu, menyatu dengan pijakan alam
Membayang pada sesuatu yang tak terungkap
Diam dengan seribu rahasianya
Mampukah?
Sedang aku tak hadir kenali diri
Juga mereka yang hidup di kisah pelangi ku


Kisah Sang Daun


Laksana daun yang tipis
Helai demi helai terlepas dari ganggang kayunya
Urat-uratnya pun terlihat lunglai, lemah, tak berdaya
Terombang-ambing dipermainkan angin
Tak tahu
Ke mana kan hinggap
Atau bagaimana rupa yang terkoyak ?
Inikah wajah hidup yang semestinya ?
Tak bisakah
Hanya bergantung aman pada pohon yang kokoh
Duh...perjalanan masih sangat panjang
Ujian yang dijalani belum seberapa
Marabahaya bersama angin selalu kan mengintai
Namun
Itulah kuasa-Nya
Membiarkan sang daun tersesat
Mengikuti alur angin yang menghembusnya
Agar daun pun tahu
Tempat ia kembali yang abadi
Allah Azza Wa Jalla, kehidupan sejati bagi diri sang daun

Begitulah diri kita, kita sama seperti daun. Angin lah sebagai jalanan takdir bagi hidup kita. Sungguh, hidup kita teramat singkat. Jika Ia berkenan, angin dapat menghempas kita kepada tapak yang baik juga buruk. Maka, teruslah berikhtiar memperbaiki diri. Selama hayat masih dikandung badan. Jangan pernah berhenti untuk suatu kebaikan. Agar pada saat diri kita tiada, Allah lah tempat kita mengadu cinta dan kehidupan yang baik lagi membahagiakan....Amin ya robbal alamin

Rabu, 21 Desember 2011

LOMBA ESSAI ANNIDA-ONLINE “IMPIANKU DI TAHUN 2012-Pelangi Ku di Tahun 2012


Eva Apriliyana Rizki

Bismillah dan Alhamdulillah, mungkin dua kata itulah yang mampu menafsirkan apa yang ada dalam realita hidup ku. Mustahil, seluruh makhluk di bumi tidak akan tersentuh dengan dua kata ini. Kata “alhamdulillah” sebagai tanda syukur kita atas karunia-Nya. Sebab bila tidak ada nikmat dari-Nya, tiada mungkin kita bisa menghadirkan berjuta impian di dalam hidup kita. Ya, layaknya sebuah dongeng, kita adalah putri atau pangeran yang memimpikan kisah yang berakhir bahagia. Sedangkan bismillah adalah kalimat Allah yang kerap terucap saat kita hendak menetas impian menjadi kenyataan.
Di usia 19 tahun, aku semakin menyadari telah banyak warna-warna pelangi yang tergores di masa yang silam. Meski mayoritas, warna yang hadir adalah hitam atau kelabu. Bila mengingatnya, hati ku ingin menangis. Bagaimana tidak, bayangkan saja semasa kecil seharusnya aku menjadi permata yang indah bagi kedua orang tua dan adik ku. Nyatanya, aku malah kerap memberi luka bagi ketiga hati yang ku sayangi. Itulah sebabnya aku menjadi pendiam sekaligus pemberontak. Maaf…ayah, ibu, dan adik.
Namun, Allah dengan “Rahman dan Rahim-Nya”, mengubah ku menjadi pribadi yang lebih baik dengan berjalannya waktu. Impian-impian masa kecil sebelum kelam ku pun mulai beranjak bangkit. Aku benar-benar bersyukur menemukan sahabat-sahabat yang baik juga shaleh dan shalehah seiring perkembangan masa pubertas ku. Karena mereka lah, pada akhirnya aku mulai memperdalam agama. Dimulai dari shalat Duha, shalat malam, berbagi tentang dunia Islam, hingga satu kebiasaan yang selalu ku lakukan sampai saat ini yaitu berwudhu sebelum memulai aktivitas.
Sungguh, jika Allah berkenan mengabulkan impian ku. Aku akan memohon pada Allah agar berkenan memberikan ku waktu yang lebih banyak untuk mendampingi mereka sampai tiba masanya mereka bertemu kebahagiaan yang suci walau aku hanya mampu mengawasi mereka dalam rentang yang jauh.
Lalu, aku juga terus berharap dalam doa dan ikhtiar ku agar aku bisa mengubah keluarga kecil ku menjadi keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang. Mengenai hal ini, aku pernah mendengar pepatah yang mengatakan “keajaiban hanya akan terjadi pada orang yang berusaha”. Ya, seandainya aku bisa mendapatkan keajaiban itu dari Allah, keinginan terbesar ku hanya satu, menghadirkan keajaiban di tengah-tengah keluarga yang ku cintai. Meski aku sendiri tak tahu kapan dan bagaimana caranya tapi aku yakin mimpi itu akan benar-benar terjadi. Semoga…amin.
Selanjutnya, berbicara tentang impian lainnya yang ingin ku wujudkan di tahun 2012 adalah aku bisa memberikan nilai IPK yang kian memuaskan dari tahun ke tahun selama studi ku di Akademi Farmasi Samarinda. Oleh karena itu, aku berusaha giat untuk selalu mengevaluasi materi-materi dengan baik. Tentunya, aku butuh semangat dan doa. Tak lupa, aku juga berusaha membantu sebaik mungkin bagi teman-teman sejawat ku yang kurang mengerti perihal ilmu yang kami pelajari. Saling berbagi dan bertukar pikiran menjadi kunci untuk kita meraih apa yang diinginkan. Pada akhirnya nanti, aku berharap bisa menyelesaikan studi ku dengan baik.
Satu lagi, aku ingin bisa menjadi penulis yang hebat. Untuk mimpi ku yang satu ini, aku punya kalimat penyemangat yang selalu ku rekam di otak ku. Beberapa untaian kata yang menyiratkan sebuah keyakinan seseorang yang istimewa bahwa aku bisa menggapai cita sebagai penulis.  Meski impian tersebut tak bisa terjadi hanya dengan mengejapkan mata sejenak saja.
Nah, impian-impian di atas hanyalah beberapa saja yang ingin ku wujudkan dalam luasnya nikmat Allah SWT. Aku tahu, jalan ku tidak akan mudah untuk bisa menjadikan sejuta impian itu menjadi kenyataan. Aku harus melalui jalan yang berliku, perlu jatuh, menangis, terluka dahulu lalu aku kembali bangkit menyusun kepingan-kepingan impian supaya saat impian telah terjadi, aku menjadi pribadi yang terus ingat untuk bersyukur kepada Allah SWT. Sebab, menurut ku percuma bila kita miliki berjuta impian tapi kita lupa pada Dia yang memberikan impian. Jadi, setiap impian mestilah harus disertai dengan keridhoan Allah SWT. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Sepenggal kalimat inilah yang ku  temukan dalam novel Negeri 5 Menara sebagai bentuk motivasi lainnya dalam diri ku.
Oleh karena itu, aku terus mencoba hadirkan semangat untuk impian-impian yang mulai berkembang saat ini. Aku tak kan pernah menyesal untuk selalu gagal. Kegagalan-kegagalan yang ada di hidup ku merupakan pijakan yang akan membawa ku kepada keberhasilan di saat yang tepat. Aku ingin melahirkan lebih banyak pelangi di hidup ku. Semangat…
(LOMBA ANNIDA-ONLINE “Saya Punya MIMPI SEJUTA DOLAR”)

Jumat, 16 Desember 2011

Aku Cemburu


Aku cemburu
Pada rentetan kata yang meluncur santun di ujung jemari
Membuncahkan sukma yang tulus tiap semburatnya

Aku sungguh cemburu
Pada cerminan hati yang berkesan lembut di tiap lakunya
Memberi kasih yang seolah tanpa batas disemai dalam perjalanan

Aku benar-benar cemburu
Pada jajakan langkah yang kokoh membangun mimpinya
Tak gusar memangku jiwa-jiwa yang sekarat dimakan problema

Cukup!
Aku memang pantas cemburu
Pada sesuatu yang tak aku punyai

Ya, aku lah si pencemburu
Namun aku tak kan terburu
Menjemput hal yang aku tuju
Suatu saat nanti

Sabtu, 03 Desember 2011

Engkau dan Buku


Buku memang gudang ilmu
Buku juga jembatan untuk melihat dunia
Buku ibarat jendela masa depan yang cerah

Namun
Ada pula saat-saat di mana buku juga mendamaikan
Tenggelam bersamanya betapa amat menyenangkan
Bahkan ketika hujan mu menderas
Buku pun rela menutupinya
Penat dan jemu kan terusir oleh kata-kata hiburnya
Sejenak....
Kala engkau di tengah lautan keramaian

Sama halnya, saat engkau memilih langkah mu tuk berjalan dalam sepi
Hening, kelam, gelap, dan juga dingin membalut tiap-tiap dilema yang terajut di dasar hati
Tapi
Tak kau gubris,
Justru kau menjadi kuat karenanya
Meski hanya sebentar, resah terobati saat kesendirian engkau jalani

Selanjutnya,
Mau kah engkau berbagi ?
Dengan bintang-bintang yang terbuang
Merenda kisah-kisah baik bersama mereka

Seperti lembaran kosong di buku yang baru
Juga pena yang setia menemani sang buku
Sungguh pesona mereka akan sirna bila tak kau ungkap lagi
Karena itu,
JADILAH ENGKAU LAYAKNYA BUKU
Maka,
Pesona yang engkau rindukan kan kerap hadir di ingatan mu

Sungguh, kehidupan manusia seperti buku
Apa yang tertulis di dalamnya adalah episode-episode yang tak berbatas
Bila engkau bisa saja merasa tenang pada buku

Kau jua kan merasa mampu untuk menghadapi adegan dalam hidup mu

NB : kisahgalauditengahhujan......^_^

Jiwa yang Rindu


Ketika hati ku merasa sesak
Di sana, di elemen waktu yang tak tersadar
Ada jiwa yang rela menopang goyah ku
Tanpa ku pinta
Menyediakan sedikit ruang dunianya hanya untuk ku
Senyumnya yang ramah seakan berkata," Ke sini lah. Aku ada untuk mu"
Itu lah dirinya
Yang tiada bosan menjamu ku dengan ranah tawanya
Yang tiada gerah meramu kasihnya lewat bening matanya
Yang kian hari kian menjerat hati yang merindu akan dirinya
Sadar kah kau ?
Hati ini tertaut akan citra mu
Hingga diri ini pun tak segan setia menunggu
Menunggu....terus menunggu...
Tuk jalan kembali pulang berjumpa dengan mu


Rabu, 30 November 2011

Fase Dunia Tulis Ku

Huuuufh....pengalaman menulis ku bermula sewaktu sekolah dasar dulu, dan terus berkembang hingga sekarang. Semoga saja, bisa lebih baik lagi. Soalnya menulis bukan lah ajang untuk menjadi terkenal, membuat kata-kata sepanjang mungkin, juga bukan untuk mendapat pujian. Akan tetapi, sebagai ladang untuk pengembangan kreativitas, bakat, olah kata buat diri kita dalam hal memotivasi, menyebarkan kebaikan di sekitar kita, dan lain-lain yang tidak membawa pengaruh buruk

Kelas VI SD Muhammadiyah 2 Samarinda
Di kalangan teman-teman ku, ku termasuk orang yang pendiam, lumayan pintar (memuji sedikit tak apa ya ^_^). Sewaktu itu, ada perlombaan mengarang tingkat SD-se Kalimantan Timur. Nah, oleh guru ku, aku disuruh membuat karangan. Yo wes, ku kerjakan karangan tersebut dibantu dengan ayah ku. Syukurlah karangan ku selesai dan ku kumpulkan ke guru ku. Hahahahaha....sayangnya, aku tak jadi diikutkan lomba. Tahu mengapa bisa terjadi ? Ya, karena aku pendiam :D. Memang aku bisa mengarang tapi kemampuan bicara juga saat itu merupakan penilaian yang penting. So, akhirnya teman ku lah yang dinobatkan jadi peserta lomba

Yup, itu pengalaman ku saat mau mengikuti lomba mengarang meski tidak kejadian. Sejujurnya, semasa SD dulu, aku juga senang menulis apa pun di buku diary, atau di mana saja asal ketemu kertas dah. Sayangnya, aku kepergok sama ibu nulis sesuatu...jadinya malas buat nulis-nulis lagi....hahahaha.

Hal yang memotivasi ku sering menulis ya dari aku membaca majalah BOBO. Tiap pekan pasti selalu beli atau kalau tak bisa, biasanya minjam ke sepupu. Gara-gara itu, aku dijuluki sama julak ku kutu buku. Yach, tak apalah, bukan kah awal mula menulis dari minat membaca ? Asiiiik.....

Semasa SMP Negeri 1 Samarinda
Masuk ke SMP, aku agak lama tak kontak dengan dunia menulis. Sibuk dengan berbagai tugas. Maklum, kan masih awal-awal jadi anak ABG (alias Anak Baru Gede). Tapi tetap, kalau pas lagi disuruh mengarang waktu pelajaran Bahasa Indonesia, paling mahir buat kata-kata sampai berlembar-lembar padahal disuruhnya cuman 2-3 lembar saja. Rakus amat yak kalau dipikir-pikir.

Nah, menjelang UAN, mulai lagi aku ingat-ingat sama dunia menulis. Ceritanya, saat itu aku lagi les Bahasa Indonesia di Airlangga. Sembari menunggu teman-teman datang, sharing lah diri ku dengan pak guru yang aku lupa namanya. Insya allah, kalau masih ingat, beliau berkata pada ku," Kembangkan terus minat menulis mu. Jangan pantang menyerah. Kalau butuh bantuan, hubungi bapak saja,". Nah, dari situlah, aku mulai menulis lagi

Semasa SMA (MAN 2 Samarinda)
Karir ku menulis saat SMA sewaktu ikut lomba esai ilmiah soalnya aku merupakan anggota KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Tak menang sie tapi lumayan dapat sertifikat. Selanjutnya, ikut LPIR tak menang juga, tapi alhamdulillah dari sekolah ada yang mewakilkan. Mereka itu para lelaki semua, terdiri dari ka Rudi, Ghazali, sama Imam Rosyadi. Mereka benar-benar hebat, aku salut sama mereka.

Sewaktu kelas 2 SMA, tertarik dengan ide temanku, Setyawati, aku berniat buat cerita pendek tentang seorang anak perempuan yang bersikap seperti lelaki. Cerpen pertama ku ku beri judul "Pilihan Hidup Ara". Saat cerpen ku kelar, ku minta pendapat teman-teman ku. Kebetulan, teman ku yang bernama Linda ini memberikan cerpen ku kepada kakaknya. Pendapat kakaknya itu begini ," Cerpennya udah bagus tapi lebih bagus lagi kalau ga plagiat". Aku senyam-senyum saja, memang benar aku memplagiat dari novel terjemahan judulnya Samira dan Samir, hanya saja memang aku ubah ke nuansa Islam. Meski mendapatkan kritik yang agak kurang menyenangkan, hal itu tak mempengaruhi niat ku untuk tetap menulis.

Menjelang ujian SMA, kelas 3, aku dihadapkan dengan begitu banyak problema. Namun, di sela-sela kesedihan yang mendera ku, aku masih bisa menulis cerpen tentang persahabatan. Salah satu judulnya yaitu Cinta Sang Sahabat dan Dua Hati Untuk Rindu (tapi belum kelar), menulis puisi buat kawan lelaki ku Yusuf, juga mulai gemar mengirim sms ke teman-teman terdekat ku berupa kata-kata mutiara atau menyangkut hal seperti itu.

Ada cerita menarik lainnya yang memotivasi ku untuk terus menulis. Sore itu, ketika suasana sekolah lenggang. Aku berbicara dengan seseorang yang istimewa, namanya Imam Rosyadi. Padahal, bukanlah hal yang mudah untuk bisa berbicara dengannya terkait isu "ada deh". Tapi, jujur, dia termasuk "muse" ku saat menulis. Terima kasih ya atas perkataan mu saat itu. Aku berharap bisa selalu memberi mu kebaikan sampai ajal menjelang (sok mendramatisir tapi kata-kata ini sungguh tulus kok terucap).
Semasa kuliah hingga sekarang
Nah, sewaktu kuliah ini lah ku bertemu dengan calon-calon penulis di lingkup teman-teman kuliah. Ada beberapa yang paling sering sharing seperti Andri Maulida, Elsa Yuliana, Ita Zakiyah, sampai para penulis terkenal seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa (hanya lewat fb kalau sama penulis terkenal hahaha).

Nah, hal yang menarik lagi. Aku dapatkan dari kata-kata Imam lewat fb. Soalnya saat ini, dia tengah kuliah di Universitas Al-Azhar, jadinya kami hanya bisa berkomunikasi lewat fb atau selular. Berikut cuplikan kalimatnya, "
biarkanlaahh....
kamu yang saat ini akan lebih kuat, menuntun u untuk berkreasi n berimajinasi dg menuangkan kebentuk tulisan yg lebih menyentuh perasaan, karna itu pengalamn hdup u yg sebnarx.
ketika cita2 u sbg penulis tlah tercapai, u baru akan sadar,
Allah tlah memberikan yg terbaik, n u akan mngerti maksud knpa semua ap yg kau inginkan di SMA atau seluruhnya gak tercapai.
cause derita saat in...i, membuat inspirasi untuk kdepannya u..
:)

Nb : sorry, i can't tell the truth if one of my note to you."
kalimatnya itulah yang sampai sekarang jadi penyemangat ku....hehehe....thank u so much...
Selanjutnya, aku mulai nulis-nulis lagi di blog, kadang di catatan fb plus masih tetap kirim sms ke teman-teman baik puisi atau motivasi. Nah, serunya, lewat fb aku kenal dengan situs Dumanalizers. Aku mulai ikutan lomba cerpen meski lagi-lagi tak menang. Hahahahah...ketawa dah kalau ingat itu. Terakhir, aku ikutan lomba cerpen di UNMUL dalam rangka Muharram 1433 H. Semoga saja bisa menang....amin....^-^

Oke teman-teman, inilah seputar kisah ku tentang fase dunia tulis ku. Maaf rada berantakan, soalnya yang kebanyakan mikir itu jari-jemari ku saja hehehe....
Kesan terakhir ku adalah "Menulis lah untuk kebaikan mu, orang-orang di sekitar mu, juga untuk cinta mu pada Allah SWT"....Sekian.....